Harga Cabai dan Babi Picu Inflasi 0,79 Persen

0
85
HARGA NAIK : Cabai menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi di Bali. (foto/dok.)

DENPASAR – Per Januari 2021, Provinsi Bali mencatat inflasi 0,79% (mtm), lebih tinggi dibanding nasional sebesar 0,26% (mtm). Berdasarkan perhitungan data BPS, inflasi terjadi di kedua kota perhitungan, yaitu Denpasar (0,77%, mtm) dan Singaraja (0,94%, mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menyampaikan, inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga pada kelompok volatile food dan administered prices. Hal itu tercermin dari meningkatnya harga bahan makanan seperti cabai rawit dan daging ayam ras, serta harga yang diatur pemerintah seperti tarif angkutan udara serta rokok kretek filter. ” Meskipun demikian, tekanan harga lebih mendalam tertahan dengan melandainya core inflation,” kata Trisno Nugroho, Selasa (2/2/2021).

Kelompok volatile food mengalami kenaikan harga 3,82% (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatkan harga terlihat untuk komoditas cabai rawit, mangga, daging ayam ras, daging babi, dan tempe. Peningkatan harga komoditas hortikultura disebabkan oleh masih terbatasnya pasokan di awal tahun pasca libur Nataru. Selanjutnya, peningkatan harga daging babi juga masih disebabkan oleh turunnya jumlah ternak babi secara signifikan, diakibatkan oleh virus yang menyerang pada tahun 2020.

“Kelompok barang administered price mencatat peningkatan harga sebesar 0,50% (mtm). Peningkatan tekanan harga pada kelompok ini disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan harga di Desember 2020,” ucapnya.

Sedangkan kelompok barang core inflation mencatat tekanan harga yang melandai, yaitu sebesar 0,17%. Menurunnya tekanan inflasi ini terjadi terutama pada harga tiket bioskop, sandal kulit pria, dan shampoo. Penurunan harga tiket bioskop sejalan dengan kembali dibukanya bioskop pasca penutupan di tahun 2020. Selanjutnya harga shampoo dan sandal kulit pria menurun sejalan dengan penurunan pembelian oleh masyarakat.

“TPID Kabupaten/Kota dan Provinsi terus berupaya untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga di masyarakat, di antaranya memastikan distribusi yang terjaga antar wilayah dan antar pulau. Selain itu, TPID juga akan melakukan gerakan Lumbung Pangan untuk memastikan distribusi kepada seluruh lapisan masyarakat di Bali dan mendorong digitalisasi pada UMKM pertanian,” tandas Trisno.

Pihaknya lebih lanjut mengungkapkan, Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada Februari 2021 akan tetap terkendali. Meskipun demikian, curah hujan yang masih tinggi berpotensi untuk mengganggu musim tanam di triwulan I 2020. Menghadapi potensi tantangan tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota perlu melakukan kerja sama antar daerah (terutama dengan daerah penghasil cabai rawit), mengoptimalkan pemanfaatan mesin CAS, dan menghimbau agar petani tetap menanam sesuai dengan siklusnya agar pasokan tetap mencukupi. Bank Indonesia terus mendorong pemanfaatan teknologi dalam pemasaran produk-produk pertanian (e-commerce) dan dalam produksi (digital farming).(sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here