Gus Toni Kunci Posisi Ketum KONI Denpasar

0
74
PENGURUS KONI Denpasar saat menghadap ke Walikota Denpasar kemarin.

DENPASAR – Seperti diprediksi sebelumnya jika Ketua Umum (Ketum) KONI Denpasar IB Toni Astawa bakal memimpin kembali diperiode II semakin nyata dan riil. Bahkan kini posisi Ketum tersebut telah dikunci pria yang akrab disapa Gus Toni itu karena sebelum Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) KONI Denpasar yang digelar Minggu (27/12/2020), Gus Toni telah menggenggam 28 surat dukungan dari 36 cabang olahraga (cabor) pemilik suara dibawah KONI Denpasar.

Menurut Sekretaris Umum (Sekum) KONI Denpasar Made Erwin Suryadarma Sena didampingi Wakil Sekretaris Umum KONI Denpasar Made Darmiyasa usai melaporkan persiapan Musorkot KONI Denpasar kepada Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra dan Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara di Pemkot Denpasar, Rabu (23/12/2020)

“Kalau Musorkot KONI Denpasarnya digelar di Gedung Sewaka Dharma Lumintang, Denpasar. Ya pastinya pak Gus Toni dengan 28 surat dukungan cabor sementara ini sudah pasti beliau telah mengunci kursi Ketum KONI Denpasar, serta akan berlanjut dua periode. Apalagi kan sudah tidak ada calon lagi yang diajukan cabor. Kalaupun diajukan ya pastinya tidak akan bisa mengalahkan pak Gus Toni,” ungkap Erwin.

Dua puluh Delapan cabor yang memberikan surat dukungan dengan materai 6000 itu yakni, Askot PSSI, judo, panahan, atletik, kempo, gateball, kabaddi, bola basket, tinju, renang, senam, woodball, sepaktakraw, layar, tenis lapangan, menembak, bola voli, catur, biliar, xiangqi, petanque, taekwondo, wushu, pencak silat, cricket, tarung derajat, dansa dan balap sepeda. Dan jumlah tersebut masih bisa bertambah.

Sedangkan Made Darmiyasa menerangkan soal menghadap ke Walikota Depasar. “Pak Walikota mendorong Musorkot memang harus digelar karena hal itu merupakan amanah dari organisasi cabor dan AD/ART KONI,” papar Darmiyasa yang juga Wakil Ketua Umum Pengkot PBSI Denpasar itu.

Paling diingatkan Walikota Rai Mantra lanjutnya, yakni pelaksanaan Musorkot nantinya harus mengedepankan pelaksanaan protokol kesehatan (prokes).

“Selain standar prokes, pak Walikota juga minta ruangan yang digunakan agar tidak menggunakan AC dan diganti dengan blower atau kipas angin. Serta peserta dikurangi dan sudah kami lakukan. Kalau dulu satu cabor diwakili dua orang sekarang hanya cukup satu orang saja,” tutup Darmiyasa. (ari)   
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here