Jajak Pendapat Belajar Tatap Muka di Tengah Proses Pemungutan Suara

0
104
KUESIONER : Para orang tua siswa SD No. 2 Benoa mengisi kuesioner rencana pembelajaran tatap muka.

BADUNG – Tahapan pencoblosan di TPS di SD No. 2 Benoa, Kecamatan Kuta, Selatan Badung, dimanfaatkan pihak guru membuka jajak pendapat terkait rencana pemerintah memberlakukan pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021.

Pantuan WARTA BALI, para orang tua siswa seusai mencoblos diberikan semacam kuesioner berisi pernyataan setuju atau tidak setuju terhadap rencana proses belajar tatap muka. “Ini sebagai tindak lanjut dari dinas yang nantinya bisa dijadikan sebagai acuan, berapa persen yang setuju dan tidak setuju,” ungkap Kepala SD No. 2 Benoa I Ketut Kadiasa yang ditemui di sekolah dengan jumlah siswa 232 orang tersebut.

Hasil jajak pendapat sementara, mayoritas orang tua siswa menyatakan setuju pembelajaran tatap muka dan itupun sejalan dengan harapan para guru. “Meskipun 90 persen setuju, bukan berarti otomatis akan dilakukan tatap muka karena akan mempertimbangkan status zona berkaitan dengan perkembangan kasus Covid-19.

Mengenai konsep belajar tatap muka, Kadiasa menyampaikan, jumlah siswa dalam satu kelas dibatasi 14 orang. Pihaknya juga menerapkan ketentuan jaga jarak 1,5 meter serta wajib mengenakan masker. “Tentu dalam pembelajaran tatap muka nanti akan dilakukan penyesuaian mengacu protokol kesehatan dan kami sudah siap untuk itu,” ungkapnya.

Ia meyakini pemahaman para siswa jauh lebih mantap dalam menjalani proses belajar mengajar dengan pola tatap muka dibandingkan sistem online. Sebab, ada beberapa kendala yang selama ini dihadapi, salah satunya keterbatasan waktu serta kondisi jaringan internet. “Kendala lainnya masalah pendampingan dari orang tua karena untuk urusan belajar, siswa akan lebih mendengarkan guru ketimbang orang tuanya,”katanya.

Terpisah, Kepala Lingkungan Sawangan I Wayan Jabut mengakui bahwa ada banyak warga yang memang menginginkan agar proses belajar tatap muka segera diberlakukan.
“Kami sangat mendorong proses pembelajaran tatap muka karena kami rasa para siswa juga membutuhkan interaksi dengan lingkungan sekolah, baik itu antar siswa ataupun dengan para guru tentunya dengan tetap secara disiplin melaksanakan protokol kesehatan,” ujarnya.

I Wayan Jabut juga mengakui proses belajar online cukup menjadi beban para orang tua terutama kebutuhan kuota internet. “Terlebih dalam kondisi pandemi, para orang tua juga lagi kesulitan dari segi ekonomi,” tandasnya sembari mempersilahkan para orang tua agar mengarahkan anaknya mengakses internet yang sudah terpasang di Balai Banjar Sawangan untuk mengikuti proses belajar online. (adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here