
KLUNGKUNG – Pandemi Covid-19 memaksa industri pariwisata Bali mati suri. Pelaku pariwisata termasuk mereka yang bekerja di industri pariwisata kelimpungan. Tidak sedikit dari mereka harus dirumahkan bahkan ada yang kena pemutusan hubungan kerja.
I Komang Pukel (42) salah seorang guide diving asal Dusun Kangin,Desa Jungutbatu, Nusa Penida bernasib apes, dirumahkan dari tempat kerjanya, karena pariwisata di Kepulauan Lembongan yang selama ini dikenal sebagai kampungnya turis di Kabupaten Klungkung ini sepi kunjungan wisatawan. Sudah hampir delapan bulan, pulau itu sepi dari hingar bingar tamu mancanegara.
Kondisi ini pula memaksa pengelola hotel, restoran dan pengelola atraksi wisata bahari tutup. Tapi Komang Pukel tidak mau terus berpangku tangan ditengah tuntutan ekonomi keluarga. Setelah dirumahkan, ia memilih banting setir, beralih profesi sebagai petani rumput laut.
“Sudah 10 tahun lebih saya tidak menanam rumput laut terakhir tahun 90an, akhirnya saat pandemi ini saya kembali lagi ke rumput laut,” tandas Pukel belum lama. Ia merasa bersyukur karena masih ada rumput laut untuk jadi penopang perekonomian di masa pandemi.
Pukel saat ini menanam rumput laut seluas 5 are.Ia bahkan sudah pernah panen. Kata dia, panen rumput laut dua kali dalam sebulan. Sekali panen ia mendapatkan hasil 500 kilogram. “Kalau dalam sebulan bisa panen sampai 1.000 kilogram,” ungkapnya penuh semangat.
Harga rumput laut pun saat ini cukup terjaga. Per kilogram harga rumput laut Rp 14.000. Jadi Pukel dalam sebulan bisa mengantongi hasil Rp 14 juta. Kini Pukel bahkan dapat membantu warga sekitar dengan mempekerjakan sebagai tukang ikat, dengan upah Rp 1.000 per ikat.
“Saya bersyukur pemerintah sudah memperhatikan harga rumput laut sehingga bisa dipertahankan menjadi Rp 14.000/kg. Kalau dulu harganya cuma Rp 3000/kg. Pengepul biasanya mempermainkan harga, namun pemerintah sudah bekerjasama dengan pengusaha untuk mempertahankan harga,” imbuhnya.
Pukel, menambahkan, budidaya rumput laut memang sedikit repot dan beresiko rugi. Tapi dirinya tetap bersyukur berkat adanya rumput laut ia bisa bertahan di tengah pandemi. (ami)








