Penyair Jengki Sunarta Terbitkan “Solilokui”

0
78
Penyair Wayan Jengki Sunarta.

DENPASAR – Di tengah karut-marut pandemi Covid-19, penyair Wayan Jengki Sunarta menerbitkan buku kumpulan puisi ke delapan bertajuk “Solilokui” (Pustaka Ekspresi 2020).

“Solilokui merangkum 55 puisi yang saya pilih dari masa penciptaan tahun 2016 hingga 2020 dan belum pernah dibukukan secara utuh. Tematik puisi-puisi ini berkisar pada persoalan kehidupan, kemanusiaan, persoalan sosial dan ekologi, kegamangan, kefanaan, renungan keseharian, dan berbagai hal yang mengusik jiwa saya,”tutur Jengki, Kamis (22/10/2020).

Jengki menjelaskan istilah solilokui biasa dikenal dalam seni drama. Solilokui biasanya disampaikan seorang tokoh yang berbicara dengan dirinya sendiri untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin, atau untuk menyajikan suatu informasi.

Dalam rangka memeringati Bulan Bahasa, buku Solilokui akan dibedah dan dirayakan, Sabtu (24/10/2020) pukul 18.00 Wita di Jatijagat Kampung Puisi (JKP), Jalan Cok Tresna No. 109, Renon, Denpasar. Selain bedah buku, acara akan dimeriahkan dengan pembacaan puisi dan diskusi ringan seputar Solilokui. “Karena masih dalam suasana pandemi, acara ini bersifat terbatas. Peserta maksimal 45 orang. Undangan yang hadir wajib mematuhi protokol kesehatan dan menggunakan masker,”ujarnya.

Mahaguru penyair, Umbu Landu Paranggi, berencana akan menghadiri bedah buku Solilokui tersebut. Pada suatu kesempatan, Umbu juga menyampaikan komentar untuk buku Solilokui, bahwa Jengki sudah menemukan pencariannya dalam proses menulis puisi. Jengki memberi kontemplasi pada tema-tema keseharian dan menjadi solilokui, ujar Umbu.

Berkaitan dengan proses kreatifnya, Jengki mengatakan menciptakan puisi adalah proses yang tidak pernah selesai. Sama halnya dengan proses belajar memaknai kehidupan dengan beragam warnanya.

Puisi selalu memberi banyak kemungkinan dan kejutan tak ternilai, yang membuat saya lebih memahami keberadaan sebagai manusia. Puisi adalah anugerah semesta yang memberkati pengembaraan batin saya menjelajahi rimba kehidupan, tandasnya.

Lebih lanjut Jengki mengatakan bahwa buku Solilokui juga dimaksudkan sebagai kado ulang tahun untuk dirinya saat memasuki usia ke-45. Sesederhana apa pun puisi yang saya ciptakan, mereka adalah anak-anak rohani yang mesti saya kasihi. Sebab mereka adalah bagian dari perjalanan hidup dan proses kreatif saya, kata Jengki.

Wayan Jengki Sunarta lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Dia adalah lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Pernah kuliah Seni Lukis di ISI Denpasar. Mencipta puisi sejak awal 1990-an, kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media massa lokal dan nasional serta terangkum dalam lebih dari 80 buku bersama. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here