
GIANYAR – Seorang pria berinisial IMU (55) membuat bingung keluarga dan warga di wilayah tempat tinggalnya di Banjar Banda Saba, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Sebab, dua kali menjalani swab test menunjukkan hasil berbeda.
IMU yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang bangunan awalnya mengalami gejala batuk dan tak kunjung sembuh. Keluarga memutusukan membawanya ke salah satu rumah sakit swasta di Gianyar. Pada Kamis (16/7/2020), dilakukan pemeriksaan swab dan besoknya hasil keluar dinyatakan positif Covid-19. Namun, sehari setelah itu dinyatakan negatif.
Perubahan cepat hasil tes itupun menimbulkan kebingungan. Bahkan, keluarga maupun masyarakat mengira adanya kesalahan hasil test seperti yang terjadi di kabupaten lain.
Terkait hal itu, Juru bicara GTPP Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Gianyar dr. I Nyoman Wawan Tirta Yasa yang dikonfrimasi Minggu (19/7/2020) menjelaskan, perbedaan hasil test swab tersebut dikarenakan faktor kondisi imunitas dalam tubuh pasien. Meski hasil swab keluar berbeda dalam seharian, yang menjadi acuan adalah hasil test swab positif. “Hasil berbeda memang bisa terjadi dan yang menjadi acuan adalah yang positif, artinya pasien tersebut memang terpapar virus covid nggih karena spesifitas pemeriksaan PCR swab mendekati 100%” jelasnya.
Ia menambahkan, terjadinya perbedaan hasil pada test hari kedua karena imunitas dalam tubuh pasien membaik sehingga virus corona menurun hingga tak terdeteksi. “Pemeriksaan hari kedua bisa negatif terjadi apabila imunitas pasien baik, sehingga kadar virus yang terdeteksi di bawah ambang batas deteksi alat,”ujarnya.
Wawan menegaskan tidak ada kesalahan dengan hasil test tersebut. Meski hasil test swab berbeda, pasien dan keluarga yang sempat kontak erat wajib melakukan karantina. Sementara sejumlah putugas medis masih melakukan tracking dan test dirumah IMU di Banjar Banda, Desa Saba, Blahbatuh.
Sementara, Kelian Dinas Banjar Banda Kadek Merta Anggara menyampaikan, anggota keluarga yang kontak erat dengan IMU sebanyak 12 orang. Hasil test rapid yang dilakukan oleh pihak puskesmas semua menunjukan non reaktif. “Astungkara semua non reaktif” ujarnya.
Kendati demikian, pihak medis dari puskesmas meminta keluarga tetap melakukan karantina mandiri dirumah. Sementara untuk kebutuhan sembako diberikan oleh satgas desa adat. “sembako diberikan oleh satgas desa asat” jelas Kadek. (jay)








