Merasa Dijebak Karyawan, Bule Irlandia Didakwa Kasus Penganiayaan Curhat Lewat Surat

0
281
MERASA DIJEBAK : Surat curahan hati terdakwa kasus penganiayaan bule Irlandia Ciaran Francis Caulfield.

DENPASAR – Pria berkebangsaan Irlandia Ciaran Francis Caulfield diseret ke pengadilan dalam kasus dugaan penganiayaan. Ia menumpahkan kegundahan atas persoalan yang menimpanya dengan mengatakan semuanya terjadi karena ulah beberapa karyawan menggelapkan uang perusahaan.   Seperti apa ?

Senin, 29 Juni 2020, Ciaran  Francis Caulfield curhat lewat surat  setebal 12 halaman. Ia menulis dalam bahasya Inggris dan diterjemahkan Naggarani Sili Utami yang intinya mengemukakan betapa remuknya hati terdakwa atas penghianatan yang dilakukan karyawan terhadap perusahaan miliknya yang dibangun dari nol.

Dalam suratnya, ia mengawali dari ikatan batin yang  dimiliki begitu kuat dengan dengan Pulau Bali, terutama pascaperistiwa Bom Bali I pada 12 Oktober 2002 silam di Kuta.  “Ada pepatah yang mengatakan, bukan kamu yang memilih Bali, melainkan Bali lah yang memilih kamu,” tulis Ciaran dalam suratnya yang dikirim melalui melalui pesan WhatsApp kepada wartawan.

Kedatangannya kali pertama ke Bali akhir tahun 2002 untuk urusan bisnis. Namun, ketika melihat dampak dari peristiwa agak kelabu, Ciaran merasa prihatin atas  apa yang dirasakan masyarakat Bali saat itu. “Saya adalah salah satu dari sekian banyak warga negara Irlandia yang pernah merasakan dampak dari peristiwa kejam seperti ini di pulau saya sendiri sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an. Pengalaman pahit itulah yang membuat saya jadi cepat memiliki ikatan batin dan merasakan penderitaan yang dialami oleh Pulau Bali,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, keramah-tamahan penduduk Bali dan kehijauan alam sekitarnya membuat dirinya jatuh cinta dan berkomitmen untuk berinvestasi, mengembangkan, membangun bisnis, serta membuat Pulau Dewata ini sebagai rumah tinggalnya. “Kala itu saya sedang membesarkan ketiga anak saya di Eropa sambil mengelola bisnis di bidang medis, keuangan, dan bisnis properti saya di sana. Selama delapan tahun berikutnya saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di Eropa,” tuturnya.

Ciaran merasa Bali terus memanggilnya sehingga ia pun lebih sering mengunjungi dan tinggal lebih lama untuk mengenal lebih banyak tentang pulau dan orang-orang Bali, terutama budaya, tradisi, agama, dan cara hidup mereka. “Saya mengembangkan properti, hotel, dan terus berbisnis dari tahun  ke tahun di beberapa lokasi yang berbeda. Akhirnya begitu pembangunan rumah pertama saya selesai, saya memantapkan keyakinan untuk pindah ke Bali pada akhir 2009,” bebernya.

Ciaran mengaku mendedikasikan diri dan mencurahkan tenaganya untuk mendirikan bisnis konsultasi dan perhotelan di Bali. “Prinsip dasar saya sederhana, yaitu mempekerjakan tenaga kerja lokal berkualitas, mengajar, melatih, menginspirasi dan memotivasi mereka untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada tamu yang datang ke Bali, dan menciptakan bisnis kepariwisataan yang melestarikan budaya dan tradisi Bali itu sendiri,” ucapnya.

Ia bersama rekannya bergabung dalam organisasi yang dikembangkan Tri Hita Karana (THK) dan dalam kurun waktu tiga tahun, ia dan rekannya bersama-sama memajukan kualitas bisnis villa yang dikelolanya hingga dianugerahi peringkat Emerald yang merupakan penghargaan tertinggi dalam organisasi tersebut. “Penghargaan Emerald yang hingga kini tetap baru dipajang di Villa Kubu akan selalu menjadi kebanggaan tim kami dan menjadi simbol kualitas terbaik dalam memberikan pelayanan dan mengoperasikan villa yang berbudaya Bali,” jelasnya.

Ciaran lantas mengungkap bahwa kehancuran yang dideritanya belakang ini muncul sejak ditemukan skandal penggelapan di Villa Kubu yang dicintainya dan sangat mengguncang jati dirinya sebagai warga yang hidup di Bali. “Saya tidak pernah menyangka saya akan dikhianati sejahat ini oleh beberapa karyawan yang begitu saya percaya di perusahaan. Tidak hanya itu, saya kemudian dijebak atas tuduhan yang tidak pernah saya lakukan dalam upaya mereka untuk menutupi penggelapan tersebut,” urainya.

Sejak penemuan penggelapan pada akhir Desember 2019 hingga selesai proses audit pada akhir bulan Maret 2020, dirinya selalu mengambil tindakan yang tepat dengan memverifikasi, menginvestigasi serta mengumpulkan semua bukti perusahaan yang dilakukan oleh akuntan publik profesional yang sah di Indonesia.

Ciaran berencana untuk tetap memegang teguh ucapnya setelah menandatangani perjanjian pada tanggal 30 Desember 2019 lalu. “Meskipun saya berhak melaporkan para penghianat tersebut ke polisi, namun saya selalu mencoba dan mencari solusi secara kekeluargaan tanpa mengambil tindakan hukum yang melibatkan pihak kepolisian. Tidak dapat saya bayangkan akibat buruk dari tindakan para penghianat yang telah merugikan perusahaan hingga merusak masa depan perusahaan bersama semua perusahaan lainnya,” jelasnya.

Hal lain, ia merasa sedih memikirkan nasib semua anggota keluarga dari karyawan-karyawannya yang sangat setia pada perusahaan ini. “Namun saya masih percaya pada orang-orang Bali dan Indonesia dan pada sistem keadilan di negara ini. Dengan rahmat Tuhan yang baik, saya tahu bahwa saya akan dibebaskan setelah mempertimbangkan hal ini,” tuturnya.

Dalam suratnya, Ciaran juga berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar keluarganya, karyawan beserta keluarganya, teman-temannya dan semua orang yang memberi dukungan agar selalu diberikan kesehatan dan mendapat perlindungannya.

Dirinya juga mengaku tak sabar menyongsong kembalinya masa kejayaan Pulau Bali seperti sediakala dan wisatawan dapat kembali mengunjungi indahnya Pulau Dewata. “Semoga rahmat Tuhan Maha Penyayang selalu menyertai agar saya diberikan kesehatan untuk selalu dapat menerima dan mendukung keluarga saya yang berada di Bal, juga di Irlandia, dan semoga bisnis yang sejak dahulu telah saya dedikasikan sepenuh jiwa ini dapat terus berkembang sepanjang masa,” harapnya. (parwata)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here