
BADUNG – Pihak Bandara I Gusti Ngurah Rai, khususnya Otoritas Bandara (Otban), diharapkan dapat mengeluarkan solusi terbaik dalam menyikapi aktivitas ‘melayangan’ dalam radius Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Bukan sekedar melarang, tapi juga memberikan alternatif.
Hal tersebut disampaikan Kepala Lingkungan Pesalakan Tuban, I Nyoman Sudarta karena sadar bahwa melayangan merupakan sebuah tradisi. Tapi disisi lain, juga beresiko jika dilaksanakan dalam radius KKOP.
Masyarakat di Lingkungan Pesalakan sendiri, dirasa sudah sangat menyadari risiko keselamatan penerbangan tersebut. Karena itu pula, tidak sedikit penghobi layang-layang yang akhirnya memilih untuk menaikkan layang-layang jauh dari radius Bandara I Gusti Ngurah Rai. Diantaranya seperti di kawasan Pantai Mertasari, Sanur.
“Layangan sekarang sudah banyak yang menggunakan sistem bongkar pasang. Jadi dengan menggunakan pick up mereka membawa layangan, dan menaikkannya di sana,” bebernya.
Namun demikian, tidak dipungkiri dia, melayangan di dalam radius KKOP masih berpotensi terjadi. Agar hal itu tidak liar, maka dia mengusulkan agar pihak bandara dapat memberikan solusi terbaik. Sehingga tradisi tetap terlaksana, tapi di sisi lain keamanan penerbangan dapat senantiasa terjamin.
“Melalui CSR, fasilitasi para rare angon (penghobi layang-layang) ini. Laksanakan event melayangan untuk masyarakat di radius KKOP secara periodik, pada lokasi yang dirasa tidak mengganggu aktivitas penerbangan,” ungkapnya.
Dengan demikian, maka menurut dia akan ada kejelasan di masyarakat. Dan masyarakat pun dirasa akan dapat memahami. “Tidak seperti sekarang, terlalu saklek tidak berani, terlalu lembek juga takut,” ungkapnya.
Melalui langkah tersebut, pihak bandara tidaklah terkesan ‘membunuh’ tradisi. Melainkan ikut melestarikan tradisi yang ada. “Saya rasa, itu akan mampu mengurangi risiko orang untuk secara kucing-kucingan bermain layang-layang di sekitar bandara. Karena event yang diselenggarakan itu secara tidak langsung juga memberi pemahaman soal bahaya main layang-layang di radius KKOP,” sebutnya. Selain itu, event tersebut juga dipandang sebagai wujud kepedulian pihak bandara kepada masyarakat sekitar. Utamanya Tuban yang merupakan desa penyangga keberadaan Bandara I Gusti Ngurah Rai. (adi,dha)








