DenpasarSeni & Budaya

Selamat Jalan Budayawan, Cok Sawitri!

Cok Sawitri dalam salah satu penampilannya di panggung teater Bali

 

DENPASAR – Kabar duka datang dari pegiat dunia sastra Bali. Pasalnya salah satu budayawan, sastrawan terbaik Cokorda Sawitri meninggal dunia secara mendadak, pada Kamis (4/4/2024).

Info berpulangnya sastrawan yang dikenal mahir bermain teater itu benar-benar mengagetkan semua pihak serta sahabat-sahabatnya.

Salah satu sahabat, I Wayan Redika yang juga seorang seniman lukis, mengaku kaget saat mendapat info Cok Sawitri dinyatakan meninggal.

“Saya dapat info dari teman-teman di grup WA Kamis pagi , bahwa Cok Sawitri meninggal dunia,” kata Wayan Redika saat dikonfirmasi, Kamis (4/4/2024).

Redika mengaku akan mempersiapkan pameran lukisan di Ubud sejatinya mengundang Cok Sawitri, pada 6 April 2024 mendatang pun jadi pupus.

“Baru dua hari lalu saya video call sama Cok Sawitri, mau mengundang dalam rangkain pameran saya, namun karena Cok Sawitri sedang fokus dalam proses projek Pergelaran Seni bersama Sanggar Maha Bajra Sandhi di Buda Keling, Karangasem, dia tidak bisa hadir dalam pameran saya, namun takdir berkata lain, tadi pagi saya mendapat info Cok Sawitri telah berpulang,” jelasnya.

Ia menuturkan, sedikit tidak ada rasa yang mencurigakan terutama dengan kesehatannya. “Pasalnya selama ini saya tidak mendengar keluhan sakit apapun, yang ada adalah selalu enak ajak diskusi tentang dunia sastra atau budaya,” ujarnya.

Sementara terkait kapan akan diupacarai, Redika menyebut masih menunggu pihak keluarga. “Karena kakak lakinya ada di Jerman, sedangkan kakak perempuannya ada di Makasar, jadi masih menunggu keputusan keluarganya,” terang Redika.

Totalitas di Panggung

Cokorda Sawitri yang lebih akrab disapa Cok Sawitri dikenal sebagai pemain teater yang lihai dalam menyajikan peran. Vokal, teknik dan penjiwaannya begitu kuat.

BACA JUGA:  Kebutuhan Listrik di Nusa Penida Akan Menggunakan Tenaga Arus Laut

Ketika sudah di atas panggung, ia akan bermain secara total. Maka tak heran, ketika bermain teater bukanlah Cok Sawitri yang tampak, melainkan tokoh yang diperankan. Maklum, kegiatan
bermain teater memang telah dilakukan sejak kecil. Semua itu diawali dari kebiasaan menari Bali, matembang dan kegiatan seni tradisional lainnya.

Cok Sawitri lahir di Sidemen, Karangasem, Bali, 1 September 1968. Selain bermain teater, ia juga menulis cerita pendek (cerpen), puisi dan menulis esai. Ketika membaca karya-karyanya, pikiran kita seakan dibawa hanyut ke dalam tulisannya itu.

Karya puisinya juga sering menjadi pilihan wajib dalam lomba, bahkan bagi para pecinta musikalisasi juga memilih puisi karya-karyanya.

Wanita yang tinggal di Jalan Tukad Batanghari XI Blok C No 6 B- Panjer, Denpasar itu, tak hanya menulis puisi, juga telah menerbitkan puisi, sehingga karya-karyanya bisa dibaca para penulis ataupun penyuka sastra.

Puisi yang telah diterbitkan, diantaranya; Rainbow, 18 Indonesia Women Poets (2008), Kumpulan Puisi: Nyanyian Kota, 7 Perempuan Penyair Indonesia (CCF, 2006) dan edisi bahasa Perancis, Selendang Pelangi, antologi puisi 17 Perempuan Penyair Indonesia (2006),
Teh Ginseng, Kumpulan Puisi bersama Sanggar Minum Kopi Bali (1992), Negeri Bayang-Bayang, Antologi bersama Puisi,
Geguritan & Cerpen (1996), Kumpulan Buku Seniman Tua Bali Kabupaten Gianyar (1996), dan 7) Buku Puisi, Setahun Kematian, Semilyar Nyanyianku Mati, Kiamatku Dalam Jarak 3 Centimeter (2013) penerbit Indie.

Karya cerpen Cok Sawitri juga sudah diterbitkan, seperti Cerpen “Mati Sunyi” dalam Sepi pun Menari di Tepi
Hari: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2004 (2004). Cerpen ini bahkan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Jerman. Selanjutnya cerpen “Rahim” dalam Mata Yang Indah:
Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2001 (2001). Cerpen ini juga diterjemahkan dalam Bahasa Inggris: Whom, terbitan kompas.

BACA JUGA:  Gubernur Koster Tegaskan Dukungan Penuh Program Strategis Presiden Prabowo

Cerpen Sebilah Pisau Roti, dimuat di Kompas, tahun 2004. Cerpen Kulkul, Karya Bakti – dalam bahasa Bali, 2000. Cerpen Pan Blasin Bali Orti, Bali Post, 2005. Kumpulan Cerpen Baruni Jembatan Sorga tahun 2013, penerbit Indie. Sedangkan, Loneny Death, kumpulan puisi tiga bahasa, Franfkrut, 2015.

Tak hanya itu, pemilik Channel Mulat Sarira Movement ini juga telah menerbitkan novel karyanya sendiri. Novel-novelnya itu, di antaranya Janda dari Jirah, Gramedia Media Utama,
tahun 2007 yang telah meraih lima besar Khatulistiwa Award. Novel itu telah diterjemahkan The Widow Of Jirah. Kemudian novel Sutasoma, terbit Juni 2009, dan meraih lima besar Khatulistiwa Award serta penerima Dharmawangsa Award 2010. Tantri, Perempuan yang Bercerita, terbit 2011, Kompas, masuk lima besar Khatulistiwa Award. Novel Karna- E-book, Penerbit Tantraz Comics tahun 2016. 50 Novel Sitayana- 2019, Gramedia Pustaka Utama. Novel Trilogi Jirah, 2021. Deep Inner Journey, 2021.

Sementara tulisan serta artikel seni dan kebudayaan yang ditulisnya, seperti Buku Seniman Tua Bali PKB (1997). Majalah Kalam – Edisi Puisi (1999). Bali Behind The Seen – Kumpulan Puisi (1999). Kontributor Tulisan dalam Bali Living in Two Worlds (2002). Kontributor Tulisan : “Ghost in Paradise” dalam Bali
Rediscovered (2004). Sedangkan karya lainnya yang berupa karya tulisan, puisi, cerpen, artikel, features & wawancara
pernah dimuat di Bali Post, Bali Echo, Nusa Tenggara, Lalitudes, Jurnal Kalam, Kompas, Gatra, Jurnal Perempuan, The Jakarta Post, Bali Rebound.

Atas pengabdian, kegigihan dan keteguhan Cokorda Sawitri dalam membina, melestarikan, dan mengembangkan seni sastra budaya Bali tanpa mengenal lelah dan putus asa, Pemerintah Provinsi Bali mengapresiasi dengan memberikan
penghargaan Bali Jani Nugraha Tahun 2022. (sur)

Back to top button