
foto: Salah seorang surfer sedang beraksi di kejuaraan sport tourism Badung.wb/ari
BADUNG – Para surfer atau peselancar ombak dari Badung dibawah Pengkab PSOI Badung yang ambil bagian dalam Kejuaraan Selancar Ombak atau Surfing bertajuk Sport Tourism KONI Badung, diminta agar berprestasi dan mampu bersaing dengan rival lainnya terutama para surfer dari mancanegara.
Permintaan itu datang dari Ketua Umum KONI Badung, Made Nariana, Apalagi yang datang dalam kejuaraan yang diikuti 300 surfer dari dalam maupun luar negeri tersebut, diikuti surfer dari 10 negara.
“Harapan saya selain mensukseskan helatan olahraga diatas air itu juga sukses dalam prestasi. Sebagai tuan rumah harusnya para surfer Badung bisa memberikan hasil maksimal meski dikepung surfer dari negara lain. Ini penting untuk persiapan even-even nasional atau internasional ke depannya,” pinta Nariana yang juga mantan Ketua Umum KONI Bali itu usai membuka kejuaraan tersebut di pantai Kuta, Jumat (30/6/2023).
Kejuaraan itu juga diikuti para atlet pra-PON selancar ombak Bali selain surfer dari negara diantaranya Rusia, Jepang, Korea, Belanda, Amerika, Ukraina, Australia, Cina, Taiwan, Spanyol termasuk Indonesia khususnya Bali dalam hal ini Badung sebagai tuan.
“Manfaatkan kejuaraan ini sebaik-baiknya untuk menambah jam terbang para surfer Badung khusunya,” tegas Nariana.
Di lain pihak, Ketua Umum Pengkab PSOI Badung Nyoman Asti Adi menerangkan, selancar Ombak memang baru mulai bangkit pasca masuk menjadi anggota KONI. Dan Badung sendiri menurunkan 10 surfernya dengan target juara di lima kategori yang dipertandingkan.
“Surfer kami yang ambil bagian merupakan peraih medali emas di Porprov Bali 2022 silam. Mereka diantaraya Mega Artana, Widiarta, Raditya Rondi, Darmayasa, Arya Dharma, Lidia Kato, Tania dan lainnya. Semoga kami bisa sapu bersih juara,” terang Asti Adi.
Menariknya, kejuaraan itu juga dihadiri Pembina PSOI sekaligus Mantan Ketua Umum PSOI Pusat Arya Subyakto. “Dari tahun 1981 ada dua atlet selancar ombak Badung Made Kasim dan Ketut Menda berada di ranking 21 dan 23 dunia. Hanya saja dulu surfing belum terorganisir seperti sekarang untuk International Federationnya,” demikian Arya Subyakto. (ari,dha)








