
DENPASAR- Pembangunan RS berskala internasional di Sanur Bali ditargetkan buka di akhir 2023. Bagi warga Sanur, terobosan pemerintah membangun kawasan ekonomi khusus ( KEK) seluas 40 hektar disambut positif namun diharapkan warga Sanur tidak tersisih di rumah sendiri.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Yayasan Pembangunan Sanur Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, disela talkshow di Puri Santrian, Sanur, Senin (23/1/2023).
Hadir pula dalam acara tersebut Wakil Gubernur Bali Tjok. Oka Artha Ardana Sukawati, Dirut PT Pertamina Bina IHC Drg. Mira Dyah Wahyuni, serta para stakeholder Bali Toursim Board ( BTB)
Gusde demikian akrab disapa, mengharapkan terkait KEK dimana akan dibangun RS Internasional di Sanur, agar memberi dampak pada warga Sanur sendiri. “ Memang ada MOU selama ini dengan pihak atau investasi di Sanur agar ada asas kemanfaatan bagus masyarakat sekitar terutama Sanur,” ucap Gusde.
Ia menuturkan, dalam sebuah kesempatan Menteri BUMN Eric Tohir pun telah menyampaikan agar pembangunan KEK memiliki asas manfaat bagi masyarakat sekitar. “ Dalam MOU kita di Yayasan setiap perusahaan memberi kesempatan kepada SDM Sanur sebesar 40 persen, tentunya sesuai bidang, keahlian serta profesionalisme yang dibutuhkan, sejauh ini berdasarkan data kita bisa penuhi 10 – 15 persen warga kita diterima, artinya masyarakat Sanur tidak tersisih di rumah sendiri, ” jelasnya.
Wakil Gubernur Bali Cok Ace dalam kesempatan tersebut menekankan adanya KEK penguatan aspek dalam pengembangan Bali sebagai destinasi pariwisata kesehatan. “ Kelebihan Bali memiliki budaya, termasuk di bidang kesehatan, keunggulan ini menjadi modal pembeda dengan negara lain yang lebih dulu mengembangkan health Tourism,” kata tokoh Puri Ubud itu.
Lanjut Cok Ace, gagasan healty tourism bukan lagi gagasan, saat ini sudah terwujud yang perlu sekarang dilakukan adalah penguatan. “ Urusan kesehatan bukan saja bisnis saja, ada prilaku tindakan sosial, Bali pulau yang damai, menyenangkan dan aman, kenapa Sanur dipilih kenapa Bali dipilih, karena ada aspek filosofi yang harus dipandang, tidak saja berobat tapi healing, sport dan sebagainya. Bali kaya dengan pengobatan usadha, dengan literasi lontar – lontar pengobatan bisa dikembangkan,” tegasnya.
Sementara itu, Drg.Mira Dyah Wahyuni mengungkapkan pengembangan RS Internasional di Bali didukung dengan culture, budayanya nilai, dan filosofinya. “ Di negara lain mungkin banyak dikembangkan healty tourism dibangun rumah sakit , namun di Bali ada kelebihan tersendiri yaitu budayanya, ini yang kita kombinasikan dengan teknologi,” ungkapnya.
Saat ini tambah Mira, Indonesia kehilangan Rp 97,6 Triliun setahun dikarenakan 2 juta orang Indonesia berobat di luar negeri. Dengan dasar pemikiran dan inisiatif pemerintah Indonesia melalui BUMN secara serius berinovasi membangun fasilitas bertaraf internasional dengan teknologi didukung oleh sistem dan SDM manusia kesehatan handal. (Sur)








