
KUTSEL – Jalan Uluwatu jadi lautan manusia, Minggu (22/1/2023). Mereka adalah para pemedek yang berjalan kaki ‘ngiring’ Sasuhunan Dewa Ayu Jimbaran menuju wilayah Desa Pecatu untuk prosesi Pasupati di Pura Luhur Uluwatu.
Bendesa Adat Jimbaran, I Gusti Made Rai Dirga mengungkapkan, upacara tersebut biasanya dilaksanakan rutin setiap 2-3 tahun sekali. Namun karena pada tahun 2020 silam ketentuan menyikapi pandemi Covid-19 sedang ketat-ketatnya, maka gelaran prosesi bersangkutan sempat ditiadakan.
Menurut Rai Dirga, pelaksanaan kali ini diikuti sekitar 25 ribu krama Desa Adat Jimbaran. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan warga luar Jimbaran juga ikut serta.
Iring-iringan dimulai dari Pura Ulun Siwi Desa Adat Jimbaran sekitar pukul 07.00 Wita. Seiring dengan itu, Jalan Uluwatu yang merupakan akses dilintasi, sempat ditutup sementara dari aktivitas kendaraan bermotor.
Penutupan sementara tersebut melibatkan berbagai unsur, baik itu kepolisian, Dinas Perhubungan Kabupaten Badung, serta pecalang dan Linmas tiga wilayah (Jimbaran, Ungasan, Pecatu).
“Berangkat dari Pura Ulun Siwi Jimbaran, langsung ke Pura Parerepan Pecatu dengan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Jadi sampai di Pecatu itu sekitar jam 9 lebih. Setelah itu, baru berangkat ke Pura Uluwatu sekitar jam 2 siang,” bebernya.
Serangkaian dengan prosesi Pasupati tersebut, di hari yang sama katanya juga dilaksanakan pementasan Calonarang. Lokasinya yakni di wilayah Desa Pecatu.
“Jadi setelah persembahyangan pada jam 4 sore di Uluwatu, kembali lagi ke Pura Parerepan Pecatu sekitar jam 5 sore. Untuk kemudian sekitar jam 6 melakukan persiapan Calonarang pada jam 10 malam,” sambungnya. (adi/jon)








