
TABANAN – Stunting atau terhambatnya tumbuh kembang anak karena sebab tertentu menjadi atensi serius Pemerintah Kabupaten Tabanan. Apalagi dari survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan, angka stunting di Tabanan sebesar 9,2 persen dari total balita yang ada. Meski angka ini masih di bawah rata-rata Bali 10,9 persen, Tabanan langsung membentuk tim percepatan penurunan stunting yang diketuai Wakil Bupati I Made Edi Wirawan.
Ditemui usai rapat tim stunting, Wabup Edi menyebutkan, pihaknya akan gerak cepat membentuk tim sampai ke tingkat desa. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penurunan kasus stunting di Tabanan.
“Meski tergolong rendah dan masih dibawah rata-rata Provinsi Bali, Namun ini menjadi atensi serius pemerintah agar tidak muncul lagi kasus baru,” ungkap Wabup Edi, Rabu (27/4/2022).
Untuk itu, pihaknya membentuk tim percepatan ini sampai ke desa yang rencananya akan dikukuhkan Kamis (28/4/2022). Bahkan pihaknya sudah koordinasi dengan Bupati selaku koordinator tim percepatan penurunan stunting di Tabanan. Hal ini juga sesuai dengan arahan dari provinsi agar segera dibentuk dan dikukuhkan.
“Tim ini dikukuhkan serentak sampai ke desa dan langsung bergerak dengan target bisa menurunkan angka stunting minimal di angka 5 persen,” tegasnya.
Ditegaskan, pihaknya bersama tim sampai ke desa akan segera bergerak termasuk melakukan intervensi di wilayah-wilayah yang masuk zona merah kasus stunting. Tim secara bersama-sama melakukan sosialisasi ke seluruh desa dan masyarakat termasuk melakukan pendekatan secara kekeluargaan untuk mengetahui penyebabnya dan bisa dicarikan solusi.
“Dengan kerja bersama, saya optimis target angka 5 persen tersebut tercapai,” yakinnya.
Sebagai langkah awal nanti setelah dikukuhkan, pihaknya bergerak dengan melakukan intervensi langsung ke wilayah atau zone merah stunting di Tabanan yakni di Kecamatan Marga. Di Kecamatan ini berdasarkan data ada 13 balita yang mengalami stunting. Dikatakan, mereka inilah yang akan dilakukan intervensi untuk mencari penyebabnya.
“Penyebabnya khan bisa macam-macam. Ada faktor ekonomi dan ada faktor sosial. Contoh seperti remaja hamil duluan disembunyikan sehingga janin tidak dirawat dengan baik. Hal seperti itu yang akan kami intervensi untuk dapat dicegah,” tandasnya. (jon)








