
DENPASAR – Melihat kematangan pebulutangkis putra dan putri bisa lebih dari usia 23 tahun, Pengprov PBSI Bali akan memperjuangkan untuk aturan usia pebulutangkis di PON nantinya dirubah. Perjuangan itu bakal dilakukan pada Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PB PBSI yang bakal dilangsungkan di Jakarta, 13-14 April 2022.
Menurut Ketua Umum PBSI Bali I Wayan Winurjaya, perjuangan perubahan usia itu, tak lain yakni dari aturan usia maksimal 23 tahun pebulutangkis yang boleh turun di PON menjadi tanpa ada batas usia.
“Tanpa batas usia pebulutangkis di PON yang kami perjuangan itu karena ada beberapa dasar penting. Pertama, pebulutangkis yang usianya lebih dari 23 tahun maka tidak bisa turun di PON akhirnya akan gantung raket. Selain itu pebulutangkis permainannya semakin matang-matangnya justru di usia sekitar 25 tahun atau 26 tahun,” tutur Wayan Winurjaya, Selasa (12/4/2022).
Sedangkan soal masa usia pebulutangkis sendiri yang semakin mendekati tua, nantinya akan menjadi seleksi alam soal gantung raket jika mereka sudah memang benar-benar tersisihkan dari pebulutangkis usia dibawahnya.
“Buktinya pasangan Hendra dan Akhsan serta Gresya Polii juga masih berprestasi meski usianya sudah banyak. Justru kalau di PON pebulutangkis yang tidak boleh turun itu yakni pebulutangkis pelatnas,” tegas Winurjaya.
Pertimbangan tersebut lanjutnya, karena memang program pelatnas memang sudah jelas yakni untuk pertandingan level internasional dan pebulutangkisnya sudah memiliki label juara. Jadi lain soal lagi jika pelatnas penghuninya merupakan pebulutangkis yang tidak dibatasi usianya.
“Ini yang harus bisa dibedakan. Malah ngerinya lagi muncul slentingan yang saya dengar untuk pebulutangkis yang berlaga di PON 2024 maksimal berusia maksimal 21 tahun.
“Lantas pebuluangkis yang usianya diatas 21 tahun mau dibawa kemana ? Bakal semakin banyak yang akan gantung raket,” tutup Winurjaya. (ari/jon)








