
KUTA – Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan pengukuran kualitas udara di sejumlah lokasi di Bali pada Hari Raya Nyepi 1944. Hasilnya, kearifan lokal tersebut terbukti mampu menurunkan konsentrasi gas polutan dan partikulat debu yang bervariasi.
Untuk diketahui, pengukuran dilakukan dalam rangka memperingati Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-72 tahun 2022 dengan tema ‘Peringatan Dini dan Aksi Dini untuk Pengurangan Risiko Bencana Hindrometeorologi’. Itu dilaksanakan atas kerjasama dengan Balai Besar MKG Wilayah III, UPT Provinsi Bali, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, DLH Kota Denpasar, dan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Bali dan Nusa Tenggara KLHK.
Pengukuran itu sendiri dilakukan dengan menggunakan peralatan untuk mengukur partikel debu total (TSP) menggunakan HAZ-DUST EPAM – 5000 dan Met One. Selain itu juga Multigas Sensync untuk mengukur karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2).
Kepala Balai Besar MKG Wilayah III Cahyo Nugroho mengatakan, pengukuran tersebut diharapkan juga memberikan kontribusi dalam kegiatan G20 nanti. Yakni sebagai sebuah informasi yang valid.
“Kami harap ke depannya emisi gas rumah kaca bisa semakin dikendalikan. Karena jika itu berkembang cukup signifikan, tentu akan merugikan kita semua,” ucapnya sembari mengatakan, sebagai tindak lanjut nanti, akan dilakukan pembahasan bersama antara stakeholder terkait lainnya.
Hal senada juga disampaikan oleh seorang peneliti Puslitbang BMKG Danang Eko Nuryanto. Kata dia, hasil pengukuran sementara yang dilaksanakan dari tanggal 28 Februari hingga 6 Maret, menunjukkan kecenderungan penurunan cukup signifikan ketika momen Nyepi. Dengan kata lain, kualitas udara ketika Nyepi tergolong bagus.
“Mungkin karena ketika itu aktivitas manusia jauh berkurang,” ungkapnya.
Sayangnya, Danang mengaku belum melakukan penghitungan terhadap penurunan dimaksud. Namun demikian, mengacu pengukuran pada tahun 2017, Nyepi terbukti, konsentrasi gas polutan dan partikulat debu yang bervariasi dengan persentase 40-60 persen.
“Untuk hasil pengukuran saat ini, bisa jadi nanti tidak jauh beda. Atau bahkan berbeda sama sekali, karena kondisinya sangat berbeda,” sebutnya.
Hasil pengukuran pada Nyepi 2022 ini, sambung dia, nantinya tentu bisa diperbadingkan dengan sejumlah kondisi lainnya. Seperti dengan pengukuran pada Nyepi di kondisi normal sebelum pandemi Covid-19.
“Karena keterbatasan alat, maka pengukuran kali ini hanya pada tiga tempat saja, yakni Denpasar, Karangasem dan Jembrana,” imbuhnya.
Pandemi Covid-19, tambah dia, diperkirakan juga akan memberikan pengaruh terhadap naik/turun konsentrasi gas polutan dan partikulat debu. Karena secara teori, aktivitas manusia sangat mempengaruhi kualitas udara.
“Ini masih kami pelajari lebih lanjut,” pungkasnya. (adi/jon)








