
KUTA – Dua pria pendatang yang mengaku baru satu bulanan tinggal di wilayah Kedonganan, tertangkap tangan membuang sampah sembarangan, Rabu (1/12/2021). Kedua pria tersebut kemudian digiring ke balai desa adat, untuk diberi pembinaan.
Ketua Jagabaya Desa Adat Kedonganan Putu Sudha Suwantara menuturkan, kemunculan TPS liar sesungguhnya sudah menjadi salah satu atensi sejak sekitar satu bulan terakhir. Ada beberapa titik, salah satunya di Jalan Segara Madu yang menjadi lokasi temuan dua pelaku tersebut.
“Sejak sebulan lalu, petugas kami sudah melakukan pemantauan ekstra. Bahkan nyanggong, untuk mengetahui siapa-siapa sebenarnya yang membuang sampai di sana. Nah, tadi akhirnya ditemukan dua pria yang tertangkap tangan,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, dua pria yang kemudian diketahui merupakan penduduk non permanen itu digiring menuju balai desa adat. Di sana mereka dibina agar tidak mengulangi perbuatan serupa.
“Tadi dibijaksanai, sanksi yang dikenakan adalah semacam denda senilai Rp 500 ribu. Itu kemudian digunakan untuk menyewa truk dalam rangka membersihkan tumpukan sampah di lokasi, serta membuat spanduk larangan pembuangan sampah sembarangan,” bebernya.
Mengenai pembinaan yang katanya turut menghadirkan prajuru Desa Adat Kedonganan, pihak Pasar Ikan Desa Adat Kedonganan, serta dirinya yang sekaligus sebagai perwakilan dari Kelurahan Kedonganan.
Meski ada pelaku yang sudah dibina dan disanksi, Sudha memastikan langkah pengawasan masih akan terus berlanjut. Karena diyakini, jumlah pelaku sesungguhnya adalah lebih dari sepuluhan orang. Apalagi Jalan Segara Madu bukan satu-satunya titik temuan TPS liar. Hal serupa diketahui juga ada di perbatasan antara wilayah Kedonganan dengan Jimbaran, dan dua titik di Jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai.
“Jagabaya dengan jumlah anggota 32 orang, akan terus lakukan pengawasan selama 24 jam,” ucapnya sembari mengabarkan bahwa kaitan dengan langkah menuju Kedonganan Bersih, kini Desa Adat Kedonganan juga sudah memiliki TPS 3R.
Sementara itu sayangnya, kejadian tersebut belum bisa dikonfirmasi ke Bendesa Adat Kedonganan. Beberapa kali Wayan Mertha coba dihubungi, belum diangkat. (adi/jon)








