
DENPASAR – Orang tua itu melepas burung yang dipeliharanya dalam sangkar. Dulu, burung yang diberi nama Cut Cat Cit itu ditangkap di hutan Bali barat. Ia pun merasa bersalah telah mengambil kebebasan burung itu dari rumah alamnya. Namun, hutan yang menjadi tempat tinggal keluarga burung justru habis dibabat manusia.
Kisah itu diangkat dalam seni teater oleh Sanggar Selem Putih, Singaraja, yang tampil dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III di Panggung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Senin 25 Oktober 2021 malam. Kelompok teater yang didandani Putu Satria Kusuma tampil menggugah dan diperkuat dengan gaya sindiran khas soal kesadaran menjaga lingkungan.
Apalagi, Putu Satria yang merupakan sosok pemain drama kawakan itu ikut memerankan di awal pementasan. Kepiwaianya mengiring isu dalam dunia drama tak diragukan lagi. Putu Satria memerankan sosok orang tua pemelihara burung Jalak. Ia ingin menggugah para penikmat seni teater dalam karyanya untuk peduli akan pelestarian lingkungan, kesadaran menjaga alam dan keberlangsungan hidup umat manusia.
Terlebih, Putu memilih ikon Jalak Bali sebagai burung yang dilindungi karena dikhawatirkan akan mengalami kepunahan. Namun, apa daya tempat habitat burung cantik yang kini menghuni hutan Bali Barat terancam punah karena hutan mulai dirusak kayunya dicuri, burungnya ditembak oleh keisengan mamusia.
Dikemas dalam dialog apik, gerak gerik keriangan burung pun menjadi penanda keluguan burung – burung yang digambarkan menyiratkan pesan mendalam bagi kelanjutan hidup alam hutan dan isinya. Cut Cat Cit, tampil mengkritik , mencoba menyadarkan polah manusia yang dinilai bertolak belakang dengan realita kehidupan.
Diceritakan, pemilik burung Jalak merasa burung cantik itu tidak bisa bersuara bagus dan berkembang biak secara alami serta memakan apa yang seharusnya dimakan agar ekosistem alam seimbang.
Lantas, burung itu pun dikeluarkan dari sarangnya. Burung senang, terbang bebas. Tapi kemudian kembali menemui orang tua itu. Burung bertanya dimana dia dulu ditangkap. Ia ingin hidup disana. Burung mengaku tak bisa hidup di pohon di jalan jalan karena pohon itu sudah ada burung. Lagipula hidup di kota sudah banyak polusi.
Orang tua itu menunjuk hutan asalnya. Burung kembali terbang tapi kembali menemui orang tua itu. Ia mengaku pohon-pohon hutan sudah banyak dicuri. Ia kehilangan pohonnya, tempat keluarganya tinggal dan bertanya haruskah pindah ke negara lain yang masih memelihara hutannya dengan baik ?.
Orang tua itu menjelaskan memang masih ada pencurian hutan, tapi kesadaran mulai ditumbuhkan agar hutan dijaga karena sumber air dan kehidupan aneka satwa. Burung sedih dan terbang tanpa arah. Ikut ngumpul sesama burung. Mereka saling menyapa. Bercerita nasibnya dan nasib hutan yang masih dicuri dan dibuangi sampah plastik.
Dalam kesedihannya, burung Cut Cat Cit bertemu burung betina. Mereka jatuh cinta. Kawin dan hidup di hutan pinggir kota. Burung betina bertelur dan mengeraminya. Burung jantan memberi oleh-oleh makanan berupa ulat. Suatu kali si jantan tidak pulang. Si betina mencari. Burung jantan tertembak mati. Si betina sedih. Burung jantan mengatakan ada manusia membawa senapa angin menembaknya.
Bukan untuk dimakan. Tapi hanya sebagai hobi. Betina sedih. Ia tak bisa hidup tanpa suami. Ia ingin ikut mati bersama suaminya. Ia pun terbang. Menemui manusia yg menembak itu.Burung betina marah dan minta ditembak agar ia mati bersama jantannya. Si penembak ketakutan. Lari. Datang arwah burung jantan. Ia minta terimalah hidup ini walau kejam. Berusaha menjadi yang terbaik mengisi hidup. Ia minta agar telurnya dierami dengan baik. Berikan cinta.
Diharapkan kelak jika semua telur menetas jadi burung yang bersuara merdu agar kehidupan makin indah. Agar kesadaran manusia melestarikan alam dan hutan makin terbuka. Pesan kuat karya Putu Satria ini agar prilaku manusia tidak sekadar seremonial menjaga lingkungan.
Dialog-dialog yang diselipkan cukup lugas, mudah dipahami dibarengi sindiran yang manis silih berganti mempersoalkan kelucuan manusia. Pada klimak cerita Putu Satria mengungkap seorang pedagang topeng burung sebagai cermin keindahan. Namun, apakah keindahan yang dijual merupakan sebuah cermin kepura-puraan akan kepedulian menjaga kelestarian alam ?. Entahlah, bisa saja kenyataanya memang demikian. (sur)








