
BULELENG – Insiden Test Swab Desa Sidatapa, melibatkan oknum anggota TNI dari Kodim 1609/Buleleng dengan warga masyarakat Desa Sidetapa Kecamatan Banjar diproses penyidik Sub Datasemen Polisi Militer (Subdenpom) IX/3-1 Singaraja.
Penyidikan terhadap insiden penganiayaan oknum TNI terhadap lima warga masyarakat saat digelar test swab Covid-19, Senin, 23 Agustus 2021 Pukul 10.30 WITA, tak pelak membuat rencana penandatanganan deklarasi damai antara Dandim 1609/Buleleng Letkol Infantri Mohammad Windra Lisrianto dengan warga korban penganiayaan, Rabu 25 Agustus 2021 tertunda.
Komandan Subdenpom IX/3-1 Singaraja, Kapten CPM Ketut Subawa, dikonfirmasi Rabu, 25 Agustus 2021, membenarkan adanya proses hukum terhadap Insiden Swab Sidatapa yang viral dimedia sosial tersebut.
“Atas perintah panglima, kami laksanakan penyelidikan terhadap insiden penganiayaan yang diduga dilakukan oknum anggota TNI terhadap warga masyarakat di Desa Sidatapa tersebut,” ungkapnya.
Sejumlah oknum anggota TNI dari Kodim 1609/Buleleng dan Yonif Raider/900 SWB telah diperiksa untuk mengusut insiden yang terjadi saat digelarnya test swab di Desa Sidetapa Kecamatan Banjar.
Senada dengan Dansubdenpom IX/3-1 Singaraja, Dandim 1609/Buleleng Letkol Infantri Mohammad Windra Lisranto menandaskan, proses hukum terhadap Insiden Swab Sidatapa dilaksanakan atas perintah Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa.
“Atas perintah Kasad, proses hukum terhadap insiden desa sidetapa dilanjutkan. Sebagai prajurit, kami siap mengikuti proses hukum yang dilaksanakan Subdenpom IX/3-1 Singaraja,” tandas Dandim Windra sembari menyebutkan pihaknya telah memperbaiki rumah warga yang rusak akibat insiden serta memberikan biaya pengobatan kepada korban.

Dikonfirmasi terpisah, Wayan Artha selaku tokoh masyarakat Desa Sidatapa membenarkan dan mengapresiasi perbaikan rumah serta pemberian bantuan biaya pengobatan dari Dandim 1609/Buleleng sebagai wujud damai yang telah disepakati.
“Memang tadi, rumah warga yang rusak akibat insiden sudah diperbaiki, kemudian biaya pengobatan juga diberikan kepada korban, namun kami tolak karena kebetulan sudah tertangani. Kami sangat mengapresiasi itikad baik yang dilakukan dan berharap insiden seperti ini tidak terulang lagi,” tandas Anggota DPRD Provinsi Bali ini sembari menandaskan tetap menunggu pelaksanaan deklarasi damai yang tertunda.
Sebelumnya sempat terjadi insiden, saat kegiatan swab di Desa Sidetapa yang berujung kericuhan. Kasus ini juga berujung ke proses hukum. Kemudian ada kesepakatan damai dan tidak melanjutkan kasusnya. Namun kini kasus tersebut kembali bergulir. (kar)








