
Pengurus Askab PSSI Buleleng yang baru dilantik
BULELENG – Acara pelantikan Pengurus Kabupaten Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Pengkab-PSSI) Buleleng Masa Bhakti Tahun 2021-2025, tidak hanya dimanfaatkan Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Bali, Ketut Suardana untuk mengukuhkan kepengurusan Pengkab PSSI Buleleng yang dipimpin Gede Suyasa untuk yang ke empat kali. Pada momentum pelantikan ditengah Pandemi Covid-19, Suardana juga mengajak seluruh Pengkab PSSI dan pecinta sepakbola di Bali agar tetap semangat dan lebih kreatif.
“Asprov PSSI Bali segera menggulirkan kompetisi, seiring kompetisi yang digulirkan PSSI,” tandas Suardana, Sabtu, 12 Juni 2021 usai pelantikan Pengurus Pengkab PSSI Buleleng di Wantilan Praja Winangun Kantor Bupati Buleleng.
Guliran kompetisi sepakbola saat ini, kata Suardana, harus disesuaikan kondisi nasional bahkan internasional saat ini yang sedang dilanda Pendemi Covid-19.
“Bagaimana sepakbola bisa tetap eksis ditengah pandemi, tentu harus ada terobosan kreatif dari jajaran Asprov dan Pengkab PSSI serta para pecinta sepakbola. Tentu dengan segenap persyaratan yang ada dibutuhkan ditengah pandemi, seperti protokol kesehatan, sehingga pembinaan dan kompetisi sepakbola bisa tetap terlaksana, aman dan nyaman bagi semua pihak,” tandasnya.
Demikian juga untuk menghadapi Porprov Bali, Cabor Sepakbola harus dipersiapkan.
“Kami dari Asprov PSSI Bali mengajak seluruh Pengkab PSSI untuk bersama-sama dalam pengembangan sepakbola di Bali,” tegasnya.
Senada dengan Suardana, Ketua Pengkab PSSI Buleleng, Gede Suyasa mengungkapkan salah satu agenda yang menjadi prioritas tahun 2021 ini adalah pelaksanaan kompetisi.
“Pelaksanaan kompetisi sepakbola sebagai salah satu upaya pembinaan atlet, kita laksanakan tahun ini,”tegasnya.
Namun demikian, tentu pelaksanaan kompetisi wajib mentaati ketentuan yang berlaku, termasuk penerapan protokol kesehatan (prokes).
“Kita juga harus minta ijin untuk penyelenggaraan kompetisi kepada Satgas Covid-19, sehingga kompetisi yang dilaksanakan ditengah pendemi ini, aman dan nyaman bagi semua, baik atlet, official dan penonton. Karena, kondisi penonton tidak bisa diprediksi, kalau atlet paling banyak 22 orang dan lapangannya luas sehingga tidak khawatir.Apalagi kalau kompetisi digelar tanpa penonton, kalau sepakat tidak masalah,” pungkasnya.(kar)








