
DENPASAR- Budayawan yang juga mantan Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof. Dr I Wayan Dibia menerima penghargaan seni tertinggi Padma Shri dari India.
I Wayan Dibia yang bekarya di bidang seni sejak tahun 70-an mengaku kaget dan tidak menyangka mendapat penghargaan dari India.” Padma Shri adalah penghargaan untuk bidang seni dan merupakan penghargaan keempat tertinggi dari 11 penghargaan pemerintah India,” kata Prof. Dibia saat dijumpai di kediamannya beberapa waktu lalu.
Ia menerima surat pemberitahuan dari kedutaan India pada pertengahan Februari 2021.” Awalnya sempat dinfokan pihak kedutaan bahwa saya mendapat Padma Shri dari pemerintah India lewat telepon, tapi belum berani meyakini kebenarannya. Akhirnya, saya pun kaget setelah menerima surat pada 11 Februari 2021. Penyerahan penghargaan rencananya dilakukan akhir tahun ini di India dan langsung diserahkan Presiden India, ” ungkap budayawan asal Singapadu, Gianyar ini.
Pencipta puluhan karya seni tari dan aktif menulis buku seni ini menyampaikan dengan adanya penghargaan ini menjadi sebuah tantangan tersendiri. ” Tantangan untuk mendedikasi kemampuan di bidang seni. Kalau dilihat kekaryaan saya memang sering mengambil lakon cerita Mahabaratha dan Ramayana,” ungkapnya.
Dibia menuturkan kali pertama berkarya tahun 1971 berupa prembon mengambil kisah Gatot Kaca Sraya dan dilihat garapan itu, otomatis memperkuat posisi sastra maha agung India di kalangan itu mulai dikenal masyarakat Bali melalui seni pertunjukan . Tahun 1972, baru mulai garapan kecak gugurnya Prabu Derstaratha. Murni menggarap seni dalam wujud kecak yang isinya banyak mengangkat epik India. Banyak lagi, karya-karya yang bernuansakan epos Ramayana dan Mahabarata.
“Tahun 1969, hadir pertama kali saya tampil menari ke India menarikan hanoman, dan terakhir saya menarikan hanoman 2013. Kemudian muncul kolaborasi karya body cak, juga mengangkat Ramayana, dimana mengisahkan Sugriwa perang, kolaborasi Kaliyudha, melibatkan penari Cak Rina, juga penulis sastra Gunawan Muhamad tentang Ramayana,” jelasnya.
Di tahun 2016 menggarap Lata di Toronto, kemudian bersama San Pradaya, dengan garapan seni berjudul Pralaya yaitu sebuah pementasan seni teater tari, dimana cerita itu tidak saja digerakan juga diucapkan dan cerita yang diangkat juga kembali mengisahkan Mahabarata. Pokok tari baratanatya (India) dan tari klasik Bali. ” Ketika ditampilkan di Kanada dan di India, dia kaget ternyata dua budaya Bali-India masih bisa berdialog dan secara politik ada jembatan yang terjalin. Bahkan, ahli-ahli India memberi respon positif,” kenangnya.
Wayan Dibia berpikir barangkali kiprahnya dalam menjalin karya seni antara dua budaya ini menjadi dasar pertimbangan pemerintah memberi penghargaan seni tertinggi. ” Bagi saya tentu bukan kemenangan pribadi melainkan menjadikan penghargaan ini sekaligus pengakuan kepada seniman Bali,” terangnya.
Dibia menambahkan, harapan kepada seniman di Bali senantiasa merancang karya- karya baru. ” Sisi positifnya memberikan motivasi dari aktivitas berkesenian bagi seniman di Bali. Dimana berkreatifitas sesungguhnya keinginan sendiri, yang kedua untuk mencapai kualitas berkarya,” tegasnya.
Rupa rupanya untuk Padma Shri di Indonesia baru tiga tokoh yang mendapatkan. Pertama pematung Nyoman Nuarta, kedua Agus Indra Udayana sekarang telah menjadi seorang sulinggih, dan yang ketiga adalah Prof. Wayan Dibia khusus di bidang kesenian. (sur)








