
TABANAN – Kebun Raya Bali di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, kini menjadi rumah bagi 20.030 spesimen tumbuhan dari sekitar 3.000 jenis berbeda yang berasal dari berbagai daerah seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Jawa, hingga Sumatera.
Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sasa Sofyan Munawar menyebut beberapa spesies terancam punah karena faktor usia tua, perubahan iklim seperti angin kencang, hingga serangan hama.
“Di sini (Kebun Raya Bali) ada tumbuhan dari beberapa marga yang di alamnya itu sudah hampir punah sehingga penting dilakukan konservasi. Itu yang harus kita jaga,”ungkap Sasa Sofyan Munawar mendampingi Plt. Sekretaris Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN Djoko Nugroho, dan Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto seusai penanaman pohon dalam rangka memperingati HUT ke-67 Kebun Raya Bali, Rabu (15/7/2026).
Pohon yang ditanam dari spesies yang hampir punah, yaitu Cipadessa Baccifera (tumbuhan rantiti dari jenis tanaman perdu), Chisocheton Sp (genus tumbuhan berkayu dari suku mahoni-mahonian), serta Agathis Dammara (tumbuhan damar).
Di Kebun Raya Bali menerapkan standar ketat minimal memiliki 5 spesimen untuk setiap jenis tumbuhan.
“Jika jumlahnya berkurang, maka segera melakukan penanaman hasil perbanyakan dari induknya. Kita terus menjaga jumlah vegetasi yang ada melalui rehabilitasi yang diperoleh dari anakan atau pembibitan dari koleksi yang lama,”jelasnya.
Pihaknya berkomitmen terus melaksanakan dan meningkatkan fungsi utama Kebun Raya, baik untuk penelitian, pendidikan, eduwisata, ekologi dan jasa lingkungan. “Kami sedang mengupayakan dalam waktu dekat melengkapi identitas seluruh koleksi tumbuhan hidup agar dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat mengenai asal usul dan karakteristik tumbuhan,”ungkap Sasa Sofyan Munawar.
Sementara, Plt. Sekretaris Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Djoko Nugroho berharap upaya konservasi dan cinta lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola, tetapi juga masyarakat terutama pengunjung.
Seiring pergeseran tren pariwisata dunia ke arah wellness tourism (wisata kebugaran/kesehatan), Djoko Nugroho mengungkapkan secara fasilitas di Kebun Raya Bali sangat mendukung.
“Kita ruang terbuka sehingga banyak peluang yang bisa dikolaborasikan untuk event olahraga seperti yoga dan trail run. Karena ini Kebun Raya, tentu ada batasan-batasan konservasi yang harus dijaga,”ungkapnya. (*)








