
DENPASAR — Musikalisasi puisi menjadi salah satu daya tarik dalam gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026.
Sebagai cabang seni yang memadukan dunia sastra dan olah harmoni, musikalisasi puisi menyimpan tantangan estetika yang tidak sederhana.
Penyair Bali, Tan Lioe Ie menegaskan indikator utama keberhasilan suatu karya musikalisasi puisi terletak pada aspek sinergi antara puisi dan musik itu sendiri.
”Dalam penilaian yang kami lihat adalah sinergi puisi dengan musik, karena ini kan dua jenis kesenian yang dipadukan menjadi satu,” ujar Tan Lioe Ie yang menjadi salah satu juri lomba musikalisasi puisi di FSBJ 2026, Selasa (14/7/2026).
Baginya, penggabungan dua medium seni ini memiliki formula matematis yang unik. Secara ideal, pertemuan puisi dan musik seharusnya menghasilkan nilai estetis yang berlipat ganda.
”Idealnya, kalau dipadukan itu secara matematik 1 + 1 = 2. Namun, kalau bisa harus lebih dari dua. Minimal sama dengan dua. Kalau justru menjadi lebih jelek, mendingan jangan dipadukan, sendiri-sendiri saja,” kelakarnya menekankan pentingnya kualitas peleburan seni tersebut.
Salah satu evaluasi krusial yang disorot dalam ajang kali ini adalah pentingnya pemahaman mendalam terhadap naskah puisi sebelum diubah ke dalam melodi. Kerap kali, kegagalan dalam menerjemahkan puisi disebabkan oleh persiapan yang terburu-buru, termasuk keterlambatan dalam memilih naskah.
”Puisi itu harus dipelajari dengan bagus supaya bisa masuk dengan bagus. Kalau tidak, sering kali tafsirnya menjadi keliru. Misalnya, pembacaannya malah menjadi terlalu dramatis. Itu sudah ranah dramatisasi puisi, bukan musikalisasi puisi lagi,” jelasnya membedakan kedua cabang tersebut.
Mengenai perkembangan musikalisasi puisi di Bali, Yoki, sapaan akrab Tan Lioe Ie menilai sangat menarik dan progresif. Hal ini ditopang oleh tingginya minat generasi muda serta konsistensi berbagai pihak dalam menyelenggarakan pelatihan (workshop). FSBJ tercatat aktif dalam membuka ruang-ruang kreatif ini.
Meski demikian, regenerasi tetap menyisakan seleksi alam yang lumrah terjadi. Banyak dari para alumni peserta lomba tingkat SMA yang kini telah tumbuh menjadi pelatih dan mendirikan grup musikalisasi puisi sendiri di sekolah-sekolah.
Yoki mengaku optimis terhadap masa depan musikalisasi puisi di Bali karena adanya ruang eksperimentasi yang lebih merdeka. Berbeda dengan pakem ketat di beberapa wilayah luar yang melarang pengulangan bait atau baris puisi, iklim kompetisi di Bali jauh lebih fleksibel.
”Di Bali, kami mengizinkan (pengulangan) karena dalam musik ada teknik yang namanya canon (susul-menyusul). Teknik itu sangat indah untuk menggambarkan nuansa seperti rindu yang tiada putus atau deburan ombak alam yang susul-menyusul. Jika tidak diizinkan mengulang sebagian, keindahan nuansa itu akan hilang,” ungkapnya.
Kunci dari estetika musikalisasi puisi adalah menempatkan kedua unsur pada posisi yang sejajar dan saling melengkapi.
”Yang penting adalah bagaimana puisi tidak subordinat terhadap musik dan musik juga tidak subordinat terhadap puisi. Keduanya harus bersinergi, karena mereka adalah dua kesenian yang sama-sama mulia,” pungkas mantan pemain dan pelatih basket ini. (*)








