
KUTA – Belakangan ini, suhu udara terasa lebih dingin di sejumlah wilayah Pulau Dewata. Kondisi yang disebut masih normal ini diperkirakan akan berlangsung hingga Agustus mendatang, seiring dengan masuknya Bali ke dalam puncak musim kemarau.
Seorang Prakirawan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, I Wayan Wirata menuturkan, kondisi dingin ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Pertama, adalah posisi semu tahunan matahari yang saat ini berada di titik balik utara, atau sekitar 23,5 derajat Lintang Utara. Kondisi ini menyebabkan belahan bumi utara mengalami musim panas, sedangkan belahan bumi selatan, termasuk Indonesia bagian selatan, memasuki musim dingin.
Selain faktor posisi matahari, suhu dingin ini juga dipicu oleh hembusan angin monsun Australia. Angin yang bertiup menuju wilayah Indonesia tersebut bergerak melintasi Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut relatif lebih dingin. Dampaknya, udara dingin yang dibawa angin tersebut ikut menurunkan suhu di sejumlah wilayah di selatan khatulistiwa.
”Hal itu mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin,” sebut Wirata, Selasa (14/7/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa minimnya pembentukan awan dan berkurangnya curah hujan pada musim kemarau turut membuat suhu udara terasa semakin menggigit, terutama pada malam hingga pagi hari. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer menyebabkan panas yang dipancarkan oleh permukaan bumi pada malam hari tidak tertahan, melainkan langsung terlepas bebas ke atmosfer.
Meski suhu udara terasa jauh lebih sejuk dan dingin dari biasanya, Wirata menegaskan bahwa fenomena ini masih berada dalam kategori normal. Untuk menghadapi perubahan cuaca ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dalam menjaga kondisi tubuh.
”Imbauan kepada masyarakat agar tetap menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan sehat, berolahraga, dan berisitirahat cukup. Pastikan agar masyarakat terus memperbaharui informasi terbaru dari sumber terpercaya yakni BMKG,” pungkasnya.*








