
BALI – Industri makanan dan minuman (F&B) di Uni Emirat Arab (UEA) tengah mengalami pertumbuhan eksponensial. Data terbaru per Juni 2026 menunjukkan bahwa sektor ini bukan sekadar bergerak, tetapi melesat menjadi salah satu pilar utama ekonomi non-migas di kawasan Timur Tengah.
Bagi para pelaku usaha kuliner Indonesia, ini adalah peluang emas yang sayang untuk dilewatkan. Namun, di balik potensi besar itu, sederet tantangan klasik masih membayangi, mulai dari rantai pasok bahan baku hingga harga pokok produksi yang sulit bersaing.
Lonjakan 42,2 Persen dan 24.594 Lisensi Aktif
Berdasarkan laporan sektoral pertama yang dirilis Abu Dhabi Chamber of Commerce and Industry (ADCCI) di bawah Strategi 2025–2028, sektor F&B di Abu Dhabi mencatatkan 24.594 lisensi aktif hingga September 2025.
Angka ini meningkat 42,2 persen pada paruh pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, setelah sebelumnya tumbuh 40 persen secara tahunan pada 2024. Secara kumulatif, sektor ini mencatat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 23,8 persen antara 2019 dan 2024. UAE Foodservice Market diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 12,0 persen hingga 2035.
Di tengah geliat ini, restoran Indonesia turut mewarnai peta kuliner UEA. Berdasarkan penelusuran per Juni 2026, setidaknya terdapat lebih dari 10 restoran Indonesia yang beroperasi, mayoritas terkonsentrasi di Dubai.
Nama-nama seperti Betawi Cafe (berdiri sejak 2007 dan meraih JLT Dining Awards 2017 sebagai Best Southeast Asian Restaurant), Dapoer Kita Restaurant, Bandung Restaurant And Cafe, Kuliner Nusantara Dubai, House of Indonesia DMCC Restaurant, serta Rempah Indonesian Restaurant di Abu Dhabi menjadi andalan diaspora dan warga lokal. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pada awal 2024 mengapresiasi alumni Poltekpar NHI Bandung yang membuka restoran Indonesia di Dubai.
Alumni NHI Bandung: Menyerap Aspirasi dan Debottlenecking
Melihat besarnya potensi ini, Ratih Astrokoesoemo, Ketua Bidang Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Ikatan Alumni NHI Bandung, mengambil inisiatif menggelar audiensi dengan praktisi dan pelaku bisnis F&B dari Abu Dhabi.
Ratih menyampaikan bahwa saat ini terdapat lebih dari 20.000 alumni NHI Bandung yang tersebar di seluruh dunia, dengan konsentrasi terbanyak di bidang Hospitality dan F&B. “Sangat penting untuk menyerap aspirasi kondisi terkini dan bersama-sama melakukan debottlenecking dari isu-isu serta hambatan berusaha di luar negeri,” ujar Ratih dalam pertemuan yang berlangsung pekan lalu.
Tantangan Bahan Baku dan Peluang Pekerja Migran
Irene Darryl, alumni NHI Bandung yang telah 11 tahun tinggal di Abu Dhabi, mengungkapkan dua isu strategis. Pertama, sulitnya mencari bahan baku dan bumbu masak siap saji asli Indonesia. “Kalau pun ada, harganya mahal sehingga harga produk jadi susah bersaing dengan kompetitor,” keluhnya.
Kedua, potensi pekerja migran terampil di bidang F&B sangat dibutuhkan di UEA. “Ini harus mulai dipikirkan secara serius, apalagi pada 2027 Pemerintah UEA akan menambah banyak destinasi wisata, termasuk marina dan kasino,” tegas Irene.
Data mendukung pernyataan Irene. Wynn Al Marjan Island di Ras Al Khaimah, resor terintegrasi pertama di UEA dengan lisensi perjudian komersial, dijadwalkan buka pada Maret 2027 dengan investasi US$5,1 miliar.
Resor ini akan memiliki 1.530 kamar, 22 restoran dan lounge, serta marina pribadi. Ini hanyalah satu dari belasan destinasi baru yang dikembangkan, termasuk program Saudi Vision 2030 dengan target 3 juta wisatawan di kawasan Aseer saja pada musim panas 2026.
Solusi Logistik dan Peran Danantara
Wisnu Aji Nugroho, Mantan Restaurant General Manager McDonald’s yang berpengalaman mengirim Pekerja Migran Indonesia ke Timur Tengah sejak 1998, menyambut baik masukan Irene. Wisnu, yang juga pernah bertugas sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3) untuk mengampu isu strategis pariwisata dan diaspora, menilai harga food cost yang mahal dapat disiasati jika regulator dan industri logistik mengurai isu bumbu masak.
“Mulai dari bahan baku dengan pemerintah daerah, pengolahan menjadi bumbu siap saji, hingga logistik di Danantara, memakai kapal laut, charter pesawat kargo, serta perizinan di kementerian dan urusan ekspor di Kemendag yang dipermudah,” paparnya.
Wisnu menambahkan bahwa charter pesawat kargo untuk mengirim bumbu masak bisa menjadi solusi murah dan berkelanjutan. “Industri F&B ini sudah rutin, tidak seperti musim haji yang hanya setahun sekali. Ini menjadi additional revenue di luar haji dan umroh, dan jauh lebih sustain,” tegasnya.
Rekomendasi: Kolaborasi Hexahelix , Lintas Kementerian dan Kedubes
Menutup audiensi, Wisnu merekomendasikan tindak lanjut yang melibatkan Kementerian Luar Negeri melalui kedubes-kedubes RI di Timur Tengah. “Kita perlu mendorong diplomasi kuliner yang terstruktur, mempermudah akses bahan baku, sekaligus membuka jalur penempatan pekerja migran terampil. Ini bukan hanya bisnis, tapi juga penguatan identitas budaya Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.
Dengan lonjakan industri F&B di UEA dan shifting ekonomi Timur Tengah dari migas ke pariwisata, momentum ini harus dimanfaatkan. Ikatan Alumni NHI akan terus memantau perkembangan tindak lanjut dari rekomendasi ini. (*)








