
DENPASAR – Tari Barong Ket masih menjadi salah satu seni pertunjukan yang paling diminati generasi muda Bali. Namun, para penari muda dinilai masih kurang berani menampilkan karakter dan identitas pribadi dalam membawakan tarian tersebut, sehingga gaya penampilan mereka cenderung seragam.
Hal itu disampaikan seniman senior sekaligus akademisi I Wayan Dibia saat menjadi narasumber dalam Loka Karya Tari Barong Ket pada hari kedua pelaksanaan Pesta Kesenian Bali XLVIII di Kalangan Ratnakanda, Art Center, Denpasar, Minggu (14/6/2026).
Menurut Prof. Dibia, seorang penari Barong Ket harus memahami struktur dan pakem dasar yang menjadi identitas tarian tersebut. Beberapa bagian penting dalam koreografi Barong Ket antara lain igel pepeson, igel condong, igel guak macok, pelayon, omang, hingga bagian ngintip jangkrik atau ngigeling suling.
“Bagian-bagian itu sudah menjadi identitas dari koreografi Tari Barong Ket. Berbeda dengan jenis barong lainnya yang tidak memiliki struktur formal seperti Barong Ket,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, peserta juga menanyakan mengenai teknik ngunda bayu, yaitu teknik pengaturan tenaga yang sangat penting bagi penari Barong Ket. Prof. Dibia menjelaskan bahwa kemampuan fisik penari Barong masa kini berbeda dengan generasi terdahulu.
Menurutnya, pada masa lalu banyak penari Barong yang juga berprofesi sebagai petani. Aktivitas fisik sehari-hari seperti memikul pakan ternak membuat mereka memiliki kekuatan tubuh yang memadai untuk menarikan Barong yang berat.
“Ngunda bayu adalah teknik mengatur dan melepaskan tenaga secara bertahap pada setiap bagian tarian. Barong merupakan tarian yang sangat menguras fisik karena penari tidak hanya bergerak, tetapi juga harus menghidupkan karakter topeng yang dimainkan,” jelasnya.
Ia mengaku pernah menyaksikan penari Barong kehabisan tenaga saat memasuki bagian omang karena tidak mampu mengatur energi dengan baik selama pertunjukan berlangsung.
Selain membahas teknik dan struktur tari, Prof. Dibia juga memberikan pemahaman mengenai latar belakang, gaya penampilan, hingga proses latihan Tari Barong Ket kepada para peserta.
Ia berharap para penari muda tidak hanya belajar secara umum, tetapi benar-benar mendalami seni Barong Ket secara menyeluruh agar mampu menjadi penerus yang dapat diandalkan di masa depan.
“Kendala yang sering saya lihat adalah kurangnya keberanian penari muda untuk memilih dan mengembangkan gaya serta identitas pribadinya. Akibatnya, di mana pun mereka tampil, gaya tari yang ditunjukkan terlihat sama dan cenderung generik,” katanya.
Karena itu, Prof. Dibia mendorong para penari muda untuk banyak belajar dari para maestro dan penari senior, sekaligus berani menemukan karakter yang paling sesuai dengan diri mereka.
Menurutnya, identitas pribadi merupakan salah satu unsur penting yang membedakan seorang penari dengan penari lainnya.
“Jangan hanya menjadi penari yang rata-rata. Penari harus memiliki kekhasan dan identitas. Dengan begitu, publik bisa mengenali karakter tari yang dibawakannya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penguasaan dasar-dasar tari Bali klasik tetap menjadi fondasi utama bagi seorang penari Barong Ket. Karena itu, latihan tari seperti Tari Baris dan Tari Jauk sangat penting untuk membangun kemampuan teknik sekaligus karakter dalam membawakan Tari Barong Ket. (*)








