
OTAK merupakan pusat sistem saraf dan pusat kendali seluruh tubuh manusia. Bisa kita bayangkan betapa sulitnya kehidupan seseorang apabila kemampuan sarafnya berkurang atau malah hilang. Betapa kualitas hidup seseorang akan menurun drastis secara sosio-ekonomi karena kehilangan mata pencaharian, tidak bisa melakukan kegiatan rutinnya, dan memaksa keluarga yang mau tidak mau harus menolong penderita dalam melakukan kegiatannya sehari- hari.
Stroke adalah penyakit ketika pasokan darah otak terganggu karena penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Stroke menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia dan di Indonesia. Di Indonesia, stroke menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian, yakni sebesar 11,2% dari total kecacatan dan 18,5% dari total kematian. Menurut data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk.
Penyakit stroke termasuk kegawatdaruratan yang menyebabkan area tertentu pada otak tidak mendapat suplai oksigen dan nutrisi sehingga dapat terjadi kematian sel otak hanya dalam hitungan menit dan bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak tersebut tidak berfungsi baik. Faktor risiko stroke dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu adanya riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, kolesterol tinggi, merokok dan menderita penyakit jantung sebelumnya. Dengan meningkatnya kebiasaan merokok pada suatu penduduk maka faktor risiko stroke terjadi pada penduduk tersebut juga akan meningkat.
Kita bisa mengenali tanda dan gejala stroke yang dikenal dengan slogan “SeGeRa Ke RS” yaitu singkatan dari “Se”nyum tidak simetris, “Ge”rak separuh tubuh melemah secara tiba-tiba, Bica”ra” pelo, “Ke”bas atau kesemutan pada separuh tubuh, “R”abun pada salah satu mata, serta “S”akit kepala hebat yang muncul tiba-tiba.
Cara untuk mencegah stroke dapat dilakukan dengan pengendalian faktor risiko yaitu mengontrol tekanan darah, gula darah, kolesterol dengan teratur, dan menghentikan kebiasaan merokok. Selain itu, aktivitas fisik juga dapat membantu menjaga berat badan tetap ideal dan mengontrol tekanan darah.
Melakukan aktivitas aerobik seperti berjalan, berlari, bersepeda, atau berenang dianjurkan 150-300 menit per minggu. Aktivitas sedentari seperti duduk dalam waktu lama perlu dikurangi. Perlu usaha yang besar dari berbagai pihak seperti pemerintah, organisasi profesi, sektor swasta, maupun masyarakat untuk meningkatkan deteksi dini stroke sebagai upaya menurunkan risiko stroke di Indonesia. *
Penulis:

dr. I Gusti Ngurah Lanang Alit Putra








