
KUTSEL – Jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai di kawasan Jimbaran setiap harinya dipadati kendaraan yang melintas. Namun di balik hiruk-pikuk jalur protokol tersebut, warga menghadapi persoalan yang tak kunjung benar-benar hilang. Persoalan tersebut yakni tumpukan sampah liar yang dibuang sembarangan oleh oknum pengendara dari luar wilayah.
Perarudan, salah satu lingkungan di Kelurahan Jimbaran, adalah salah satu korbannya. Di beberapa sudut jalan, sampah kerap muncul begitu saja, seolah ada tangan-tangan tak bertanggung jawab yang menjadikan tepi jalan sebagai tempat pembuangan instan.
Kepala Lingkungan Perarudan, Made Dharmayasa menyebut, sesungguhnya ada banyak titik di sepanjang Jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai (Jimbaran) yang selama ini menjadi langganan tumpukan sampah liar. Tidak sedikit di antaranya, berada di wilayah Lingkungan Perarudan.
Berangkat dari keresahan itulah berbagai unsur di Jimbaran kemudian bergerak. Sejak Senin (4/5/2026) lalu, melalui pengaturan jadwal yang sedemikian rupa, Jimbaran mulai melakukan aksi “nyanggong”, yakni menjaga titik-titik rawan pembuangan sampah dari tangan-tangan nakal.
Hasilnya cukup mengejutkan. Di wilayah Lingkungan Perarudan saja, dalam beberapa hari pelaksanaan pengawasan, puluhan orang kedapatan membuang sampah sembarangan. Mereka kemudian diberikan sanksi sesuai aturan adat yang diberlakukan.
“Kalau total di wilayah Lingkungan Perarudan, itu kami temukan hampir 20 orang pelaku. Banyak di antaranya adalah pelaku-pelaku usaha kecil, seperti penjual lalapan. Saat jam tutup dan jalan pulang, mereka membuang begitu saja pada titik-titik yang dirasa aman. Sampah-sampah ini belum terpilah,” ucapnya.
Namun alih-alih membayar denda Rp25 juta sebagaimana tercantum dalam Perarem Desa Adat Jimbaran, para pelaku condong memilih untuk membawa kembali sampahnya masing-masing. Namun demikian, ada pula yang dikenakan sanksi tambahan, yakni ikut mengangkut sampah lain yang telanjur menumpuk di lokasi. Langkah ini dilakukan bukan sekadar memberi efek jera, tetapi juga menanamkan tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan.
Dharmayasa mengatakan, sejak pengawasan dilakukan, perubahan mulai terlihat. Titik-titik rawan yang sebelumnya kerap dipenuhi sampah kini tidak lagi ditemukan tumpukan baru. Menurutnya, video-video pengawasan yang viral di media sosial, turut memberi dampak besar. Bahkan baginya, video-video dimaksud jauh lebih efektif ketimbang sekadar spanduk larangan membuang sampah.
“Sejak viral, penurunan sangat signifikan. Saat penjagaan semalam, sama sekali tidak ada kami temukan pelaku yang masih berani buang sampah sembarangan pada titik-titik rawan Jalan By Pass Ngurah Rai di Perarudan,” sebutnya.
Untuk diketahui pula, atensi yang diberikan Jimbaran terhadap fenomena ini, tidak hanya berhenti pada pengawasan. Melainkan juga eksekusi terhadap sampah-sampah liar yang terlanjur tertumpuk. Atas koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung, sampah diangkut ke TPST Mengwitani dalam kondisi terpilah.
“Hasil koordinasi kami dengan DLHK, sampah tidak bisa diangkut kalau belum terpilah. Jadi karena tumpukan sampahnya banyak dan sudah berbelatung, jadi kami menggunakan jasa pihak ketiga, yakni transporter jasa pengangkut sampah yang ada di Jimbaran. Kami minta bantuan untuk dipilah, sebelum dibawa ke TPST Mengwitani” bebernya.
Dharmayasa memastikan, atas koordinasi dengan pihak desa adat, lurah, dan LPM, langkah pengawasan wilayah agar tetap bersih dari fenomena tumpukan sampah liar, akan terus dilakukan. Tentunya dengan melibatkan berbagai unsur terkait seperti prajuru banjar, jagabaya banjar, pecalang, serta tim yang ada.
“Hal yang kami tekankan pula, bagi warga ataupun usaha yang ada di jalur protokol, kami minta untuk tidak menempatkan sampah di depan rumah ataupun usaha masing-masing. Karena hal itu juga merupakan faktor pemancing orang lain untuk ikut nitip sampah. Padahal, pengangkutan sampah keliling oleh DLHK pada jalur protokol di Jimbaran, itu sudah tidak ada. Jika tidak berlangganan jasa sampah, sementara ini sampah masing-masing wajib dibawa sendiri ke titik pengumpulan, yakni di Wantilan Kuari Jimbaran. Itupun wajib dalam kondisi sudah terpilah,” sambungnya.
Melalui langkah-langkah yang dilakukan ini, Dharmayasa berharap agar Jimbaran bisa terbebas dari titik tumpukan sampah liar. Apalagi kebersihan jalan protokol dipandang bukan hanya soal lingkungan, melainkan wajah Jimbaran di tengah lalu lalang masyarakat dan wisatawan. “Mudah-mudahan segenap masyarakat bisa semakin sadar, dan menjaga kebersihan lingkungan bisa menjadi budaya,” harapnya. (adi)








