
DENPASAR – Pemerintah Kota Denpasar bersama Forum Wartawan Denpasar (Forward) melakukan studi tiru ke Yogyakarta guna memperkuat strategi komunikasi pembangunan daerah dan membangun pola kolaborasi yang lebih erat dengan media massa.
Kunjungan yang berlangsung pada 5–7 Mei 2026 itu dipusatkan di Dinas Komunikasi, Informasi dan Persandian Kota Yogyakarta. Rombongan dipimpin Asisten III Setda Kota Denpasar, Putu Wisnu Kusuma Wijaya, didampingi Kabag Prokopim Setda Kota Denpasar, Ni Putu Ayu Yuni Sugiantari, serta Sekretaris Dispenda Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai.
Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Persandian Kota Yogyakarta, Trihastono, menegaskan bahwa keterbukaan informasi menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan pembangunan daerah. Menurutnya, media tidak hanya diposisikan sebagai penyampai berita, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam menjaga transparansi dan membangun kepercayaan publik.
Ia menjelaskan, Pemkot Yogyakarta secara rutin melakukan analisis terhadap pemberitaan media cetak, online hingga media sosial untuk memastikan informasi pembangunan tersampaikan secara utuh dan objektif kepada masyarakat. Langkah tersebut juga dinilai efektif dalam membangun kontrol sosial yang konstruktif terhadap jalannya pemerintahan.
Sementara itu, Kabag Prokopim Setda Kota Denpasar, Ni Putu Ayu Yuni Sugiantari, menyebut studi tiru ini menjadi referensi penting bagi Pemkot Denpasar dalam memperkuat pola komunikasi publik dan hubungan kemitraan dengan insan pers.
Menurutnya, model kolaborasi yang diterapkan di Yogyakarta dapat menjadi inspirasi untuk meningkatkan keterbukaan informasi sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan Kota Denpasar.
Selain mempelajari strategi komunikasi publik, rombongan juga meninjau sistem pengelolaan sampah di Kelurahan Giwangan. Wilayah tersebut dinilai berhasil menekan volume sampah melalui sistem pemilahan sejak dari rumah tangga.
Warga setempat diwajibkan memisahkan sampah organik dan anorganik sebelum dibuang ke tempat penampungan. Sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat.Sedangkan sampah organik diolah secara mandiri melalui lubang biopori yang dibuat di lingkungan rumah warga.
Lurah Kelurahan Giwangan, Dyah Murniwarini, mengatakan pemanfaatan lubang biopori tidak hanya membantu mengurai sampah, tetapi juga menyuburkan tanah dan bermanfaat bagi tanaman.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kedisiplinan dan keterlibatan aktif masyarakat. Karena itu, pihak kelurahan terus melakukan edukasi dan motivasi kepada warga agar kesadaran menjaga lingkungan tetap terjaga secara berkelanjutan.
Turut hadir dalam kunjungan tersebut Dirut Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma Kota Denpasar, Putu Yasa, serta jajaran Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar. Studi tiru ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat transparansi pemerintahan, sinergi media, dan tata kelola lingkungan berkelanjutan di Kota Denpasar. (sur)








