
DENPASAR – Menjelang pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026, perhatian publik terhadap kekuatan konstruksi tribun Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali (Art Center), kian menguat.
Dua narasumber, Kurator PKB sekaligus akademisi, I Gede Arya Sugiartha, dan mantan Kepala UPTD Taman Budaya Bali, Agung Diputra, sama-sama menekankan pentingnya evaluasi teknis menyeluruh demi menjamin keselamatan penonton.
Arya Sugiartha menilai kekhawatiran masyarakat sebagai hal yang wajar. Ia mengakui selama ini pemantauan kondisi tribun memang rutin dilakukan, namun masih sebatas pemeriksaan visual dan belum menyentuh aspek teknis konstruksi secara mendalam.
“Selama ini pengecekan lebih ke kondisi luar. Kita bukan ahli konstruksi, sehingga perlu melibatkan tim teknis,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Ia mengungkapkan, pemeriksaan terakhir oleh tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dilakukan sekitar tiga hingga empat tahun lalu, dengan hasil bangunan masih layak digunakan sepanjang tidak menanggung beban berlebih. Namun, dengan usia bangunan yang mendekati 50 tahun, ia menilai audit ulang menjadi kebutuhan mendesak, terutama karena PKB merupakan event berskala besar dengan ribuan penonton.
Sejalan dengan itu, Agung Diputra menyoroti faktor usia bangunan sebagai risiko utama. Ia mengingatkan bahwa Ardha Candra yang berdiri sejak 1973 kini telah melewati setengah abad, sementara tekanan penggunaan terus meningkat, termasuk pemanfaatan ruang bawah tribun sebagai area pameran.
“Kalau terjadi kelebihan kapasitas, ini tentu menambah beban struktur dan harus jadi perhatian serius,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pengalaman saat gempa 2017, di mana bagian konstruksi kori agung Ardha Candra terlihat mengalami pergerakan. Selain itu, beberapa kerusakan sempat terjadi di area lain Taman Budaya, menjadi sinyal perlunya perhatian lebih terhadap kekuatan bangunan secara keseluruhan.
Kekhawatiran lain muncul dari fakta bahwa jumlah penonton saat pertunjukan populer, seperti gong kebyar, kerap melampaui kapasitas ideal. Dari kapasitas sekitar 7.000–8.000 orang, jumlah penonton bisa membengkak hingga 10.000 orang.
“Kelebihan kapasitas ini berisiko. Kalau tidak dikendalikan, bisa berdampak pada keamanan struktur,” ujarnya.
Baik Arya Sugiartha maupun Agung Diputra sepakat bahwa langkah paling mendesak adalah melakukan uji teknis, termasuk tes kekuatan beton dan evaluasi struktur secara komprehensif. Koordinasi dengan instansi teknis seperti Dinas PU dinilai krusial agar hasil kajian dapat menjadi dasar kebijakan sebelum PKB digelar pada 13 Juni hingga 11 Juli 2026.
Arya Sugiartha menegaskan, pihaknya bersama Dinas Kebudayaan akan segera berkoordinasi untuk memastikan pemeriksaan teknis dilakukan tepat waktu.
“Targetnya sebelum PKB dimulai sudah ada hasilnya, sehingga masyarakat bisa merasa aman dan nyaman,” tegasnya.
Dorongan serupa juga datang dari Agung Diputra yang meminta agar wacana rekonstruksi dan rehabilitasi Ardha Candra kembali dilanjutkan, baik melalui dukungan anggaran pusat maupun daerah. Menurutnya, sebagai ikon seni budaya Bali, keberlanjutan fungsi Ardha Candra harus diimbangi dengan standar keselamatan yang memadai.
Dengan tingginya animo masyarakat terhadap PKB, evaluasi menyeluruh terhadap konstruksi Ardha Candra kini menjadi perhatian bersama, agar perhelatan budaya tetap berlangsung aman tanpa mengabaikan aspek keselamatan. (sur)








