
DENPASAR – BIMC Hospital Kuta menggelar kegiatan health talk bertajuk “Save Lives. Starting With Yours” pada Jumat (20/2/2026) di Prama Sanur Beach Bali sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketersediaan donor darah Rhesus Negatif yang masih sangat langka di Bali.
Berdasarkan data Palang Merah Indonesia Provinsi Bali, jumlah pendonor darah Rhesus Negatif di Bali masih sangat terbatas, yakni golongan A- sebanyak 50 orang, B- 23 orang, O- 123 orang, dan AB- hanya 2 orang. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi fasilitas kesehatan, terutama dalam penanganan pasien darurat yang membutuhkan transfusi darah dengan kecocokan Rhesus.
Health talk menghadirkan dr. I Ngurah Arya Wicaksana, Sp.An-TI, Subs. TI (K), Intersivist BIMC Hospital Kuta, yang menjelaskan aspek medis terkait kebutuhan darah Rhesus Negatif, serta Ni Luh Putu Arista Apriyanti, A.Md.AK Kepala Bagian Pengujian Quality Control (QC) PMI Bali yang memaparkan kondisi ketersediaan stok darah di lapangan.
Pengalaman inspiratif juga disampaikan Mike Lambrou dari komunitas Bali Hash House Harriers yang selama ini aktif mendonorkan darah Rhesus Negatif miliknya dan mendorong partisipasi masyarakat internasional maupun lokal untuk ikut menjadi donor.

Direktur BIMC Hospital Kuta, dr. Meike Magnasofa, M.Med (WH)., MARS, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membangun sistem donor darah langka yang lebih siap siaga.
“BIMC Hospital Kuta berkolaborasi dengan PMI Provinsi Bali untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus membangun jaringan calon donor Rhesus Negatif yang sangat jarang di Bali. Harapannya, dalam kondisi darurat tidak ada lagi nyawa yang hilang akibat tidak tersedianya darah yang dibutuhkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Donor UPTD PMI Provinsi Bali, dr. Nyoman Sastrini, menegaskan bahwa kelangkaan darah Rhesus Negatif menjadi tantangan nyata dalam pelayanan transfusi darah di Bali.
Menurutnya, secara genetik pemilik golongan darah Rhesus Negatif memang sangat sedikit di Indonesia, sehingga ketersediaannya sangat bergantung pada pendonor aktif yang terdata dan mudah dihubungi saat kondisi darurat.
“Kasus kebutuhan darah Rhesus Negatif sering menjadi situasi kritis karena jumlah pendonor sangat terbatas. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat yang memiliki Rhesus Negatif untuk terdata dan bersedia menjadi donor rutin, sehingga ketika ada pasien yang membutuhkan, darah dapat segera tersedia,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, BIMC Hospital Kuta bersama PMI Bali berharap dapat membentuk database donor Rhesus Negatif yang lebih luas dan responsif, sekaligus memperkuat jejaring kemanusiaan guna memastikan keselamatan pasien di Bali.
Health talk ini menjadi pengingat bahwa langkah sederhana seperti mengetahui golongan darah dan bersedia menjadi pendonor dapat menjadi aksi nyata dalam menyelamatkan nyawa sesama. (dha)








