
BADUNG – Kedokteran Forensik RS Prof. Ngoerah memastikan penyebab kematian backpacker asal China berinisial De (25) bukan karena keracunan. Perempuan itu meninggal di kamar hostel di kawasan Canggu, Kuta Utara, Selasa (2/9/2025) sekitar pukul 11.00 WITA.
Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RS. Prof. Ngoerah, dr. Kunti Yulianti mengatakan, otopsi jasad De dilakukan 15 September 2025. Hasil pemeriksaan toksikologi melalui uji sampel darah, urine, cairan lambung, hati, paru dan ginjal, tidak ditemukan zat beracun seperti pestisida, sianida, arsen, narkoba, metanol, dan etanol.
“Saya menyimpulkan bahwa secara pasti sebab kematian ini memang masih abu-abu. Tapi, secara pemeriksaan makroskopi dari otopsi bahwa sebab kematian karena iritasi saluran pencernaan yang menimbulkan diare dan mengakibatkan kekurangan cairan dan elektrolit tidak dapat disingkirkan,”ujar dr. Kunti Yulianti saat jumpa pers di Polres Badung, Senin (24/11/2025).
Penyebab kematian itu berdasarkan pemeriksaan jasad ditemukan adanya pelebaran pembuluh darah di seluruh organ dan pembesaran beberapa kelenjar getah bening di daerah penggantung usus yang menghubungkan usus dengan lambung.
“Kemudian, juga ada bercak-bercak perdarahan di selaput pembungkus hati dan selaput lendir lambung, serta pada lambung kami temukan adanya cairan berwarna hitam kehijauan,”ungkapnya.
Ditemukan juga beberapa bercak kemerahan pada usus halus dan tidak ditemukan cairan atau hasil pencernaan dari lambung, serta pada usus besar tidak ditemukan adanya tinja. “Dari kelenjar getah bening yang kami ambil ternyata tidak ditemukan hal yang spesifik. Jadi hanya tanda peradangan kronis seperti itu saja,”jelasnya.
Sementara, Kasat Reskrim Polres Badung AKP Azarul Ahmad mengungkapkan, berdasarkan pemeriksaan rekaman CCTV, korban tidak menyantap makanan dari restoran hostel.
“Korban tidak makan di restoran hostel sehingga kita tidak bisa memastikan darimana korban mendapatkan gejala diare. Bukti rekaman CCTV sudah kami tunjukkan kepada keluarganya,”ujar AKP Azarul Ahmad mendampingi Wakapolres Badung Kompol I Gede Suarmawa.
Bagaimana dengan enam wisatawan lain yang mengalami gejala sama ? “Salah seorang saksi yang mengalami gejala diare di hari itu juga mengaku tidak makan di hostel. Dia sempat makan di restoran di tempat lain,”ungkapnya.
Ia menyampaikan, korban datang sebagai solo traveler dan tidak saling mengenal dengan wisatawan lainnya. “Mereka menyantap makanan di beda-beda tempat,”ujarnya.
Penyelidikan kematian korban dilakukan secara scientific crime investigation dan memeriksa 15 orang saksi. Di antaranya, karyawan hostel, kedokteran, serta saksi ahli.
“Sebagaimana penjelasan dari dokter bahwa racun, pestisida, arsen, sianida maupun methanol dan alkohol tidak terdeteksi sehingga bahasa yang berkembang racun itu sudah terbutakan secara scientific investigation,”tegasnya.








