
BADUNG – Setelah Ungasan, kini giliran Desa Kutuh yang meluncurkan paving block hasil pengolahan residu pembakaran sampah. Bedanya, paving block yang dihasilkan Kutuh berbentuk persegi, sedangkan di Ungasan bentuknya persegi panjang.
Perbekel Desa Kutuh, Wayan Mudana mengungkapkan, pengolahan residu menjadi paving block tersebut merupakan inovasi yang dilaksanakan di TPST Teba Kauh Desa Kutuh. Hal itu merupakan wujud komitmen Desa Kutuh untuk menyelesaikan sampah secara terpadu.
“Residu yang ada saat ini adalah hasil dari pembakaran sampah incinerator Motah. Residu yang dihasilkan kita ayak, dan butiran halusnya kita proses menjadi paving block dicampur pasir, semen, dan air,” ungkapnya, Kamis (31/7/2025).
Setelah menunggu kering dalam waktu 14 hari, paving block perdana akan diuji terlebih dahulu. Tujuannya, tiada lain adalah untuk memastikan kekuatan paving yang dihasilkan. Apakah bisa dilalui sebatas untuk perjalan kaki, motor, ataupun mobil. “Ukurannya ini 20×20 cm dengan ketebalan 8 cm,” sambungnya.
Di tahap awal ini, paving block dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan di desa. Misalnya untuk gang-gang atau jalan setapak. “Tapi sepertinya secara kekuatan, itu cukup aman untuk pejalan kaki dan sepeda motor,” sambungnya.
Mesin pembuatan paving yang dimiliki, kata Mudana, merupakan CSR dari Motah. Atas pertimbangan komitmen yang dimiliki Desa Kutuh dalam menyelesaikan persoalan sampah secara tuntas di tempat.
“Atas adanya alat ini, kami yakin awal Agustus 100 persen sudah bisa kami tuntaskan sampah di Desa Kutuh,” tegasnya sembari menyebut bahwa 17 Agustus nanti akan digunakan sebagai momentum merdekanya Desa Kutuh dari persoalan sampah.
“Kita akan senantiasa melakukan terobosan dengan komitmen untuk selalu menjadi yang terbaik. Sekarang ini, kami akui masih belum sempurna. Tapi kami komit untuk selalu berbenah,” pungkasnya.
Terpisah, Camat Kuta Selatan, I Ketut Gede Arta menyambut positif terobosan yang dilakukan oleh Desa Kutuh. Menurut dia, langkah Desa Kutuh ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tingkat desa. Abu yang sebelumnya hanya limbah, kini disulap menjadi bahan bangunan yang bermanfaat.
“Inilah wajah baru desa-desa kita. Berani berinovasi, peduli lingkungan, dan melibatkan pemuda. Saya harap program ini bisa menjadi role model bagi desa-desa lain di wilayah Badung, bahkan Bali secara umum,” ucapnya.
Disampaikannya pula, program ini merupakan hasil kolaborasi antara perangkat desa, komunitas lingkungan, dan pemuda setempat. Abu sisa pembakaran sampah yang biasanya dibuang, kini diproses ulang menjadi paving block yang kuat, ekonomis, dan ramah lingkungan. Inovasi ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis daur ulang. (adi)








