
DENPASAR – Langit Kalangan Ayodya malam itu seolah ikut menyaksikan magisnya pentas drama gong Sekaa Kanti Budaya, duta Kabupaten Bangli, yang memukau penonton lewat lakon “Beruk Sakti”. Pertunjukan ini bukan sekadar nostalgia terhadap seni drama gong yang pernah berjaya di era 1980-an, tetapi juga menjadi bukti bahwa kesenian ini masih hidup, segar, dan mampu beradaptasi dengan zaman.
Disutradarai oleh Nengah Dwi Madyayani, S.Sos., dengan ide cerita dari Sang Ayu Ganti, S.Sos., M.Pd.H., dan sentuhan musikal dari Ida Bagus Kartika, pertunjukan ini berdurasi hampir tiga jam namun sama sekali tak membosankan. Justru sebaliknya, 22 penari dan 27 penabuh menghadirkan ritme dinamis yang menghipnotis. Tabuh pembuka “Gambang Suling” karya maestro Wayan Beratha membuka suasana dengan nuansa magis.
Yang paling menyita perhatian adalah aksi kocak dari para tokoh komedi seperti Topok, Dolir, dan Golek, yang sukses membuat penonton tertawa lepas. Ida Bagus Ngurah Yasa yang memerankan Topok tampil menghibur dengan mimik lugu namun cerdas.
Intrik, Cinta, dan Sebuah Beruk Sakti
Cerita “Beruk Sakti” bermula dari Kerajaan Koripan. Sang Raja ingin turun tahta dan menyerahkan mahkota kepada putranya. Namun sang putra menolak karena belum memiliki pasangan hidup. Celah ini dimanfaatkan oleh Patih Agung yang punya rencana licik: menjodohkan sang pangeran dengan Putri Pejarakan—yang ternyata adalah anak angkatnya sendiri, demi menguasai kekuasaan.
Sang putra memilih meninggalkan istana dan menyamar untuk menjelajahi hutan. Di sanalah ia bertemu seorang gadis, putri dari Ki Dukuh Sakti. Cinta pun tumbuh dan janji setia terucap.
Namun drama belum usai. Ketika Raja Koripan meminang Putri Pejarakan, sang putra diminta menyusul. Di saat itulah, Patih Agung mencoba menyingkirkan gadis pilihan sang putra. Untungnya, Ki Dukuh menyelamatkan sang gadis dan mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya—dia adalah Putri Raja Daha, kerajaan yang dihancurkan oleh Raja Pejarakan dan Patih Agung.
Sebuah “beruk” (tempat menyimpan sesuatu) menjadi kunci identitas. Ketika semua dipertemukan di Pejarakan, muncul pula seorang wanita yang menyerupai sang putri asli. Adu identitas pun terjadi. Siapa pun yang bisa masuk ke dalam “beruk” adalah putri yang sah. Tanpa pikir panjang, si gadis palsu mencoba dan justru terjebak di dalamnya. Sebuah akhir yang jenaka dan penuh pelajaran. (sur)








