
DENPASAR – Anggota DPRD Bali dari Dapil Buleleng, Ida Gede Komang Kresna Budi, menyoroti penanganan persoalan sampah di Bali, khususnya terkait wacana pengangkutan material kompos ke kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Klungkung.
Politisi Partai Golkar tersebut mengaku memahami posisi sulit Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam menghadapi persoalan sampah yang hingga kini belum tertangani secara optimal, terutama di wilayah Denpasar dan Badung.
Namun demikian, ia mengingatkan agar rencana pengiriman sampah organik dalam jumlah besar ke Klungkung dipertimbangkan secara matang. Menurutnya, jarak yang cukup jauh serta intensitas pengangkutan menggunakan truk berpotensi menimbulkan dampak baru, baik dari sisi kesehatan maupun lingkungan.
“Yang bermasalah hanya Denpasar dan Badung. Membawa material sampah organik bertruk-truk dalam jarak jauh, apakah tidak menimbulkan penyakit dan merusak pemandangan?” ujarnya Senin (13/4/2026).
Kresna Budi yang juga wakil ketua II DPRD ini menganalogikan persoalan sampah seperti kemacetan lalu lintas yang harus diurai dari sumbernya. Karena itu, ia mendorong solusi berbasis pengolahan di tingkat lokal, salah satunya dengan penggunaan incinerator skala desa.
Menurutnya, dengan kemampuan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah, pengadaan incinerator dengan kapasitas pengolahan dua truk per hari sangat memungkinkan untuk dilakukan. Ia juga menyebut kondisi sampah saat ini sudah masuk kategori darurat atau force majeure.
“Kalau sudah darurat, mau dibuang ke mana lagi? Bahkan saya sendiri sampai membakarnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dengan adanya Incenerator tingkat desa, pengangkutan sampah jadi lebih efektif dan efisien hemat BBM, hingga tidak mengotori desa lain.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa persoalan sampah sejatinya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota, dalam hal ini Pemerintah Kota Denpasar dan Pemerintah Kabupaten Badung. Ia mempertanyakan mengapa beban tersebut seolah lebih banyak ditanggung oleh pemerintah provinsi.
“Kenapa Gubernur selalu jadi bemper? Padahal ini tanggung jawab daerah masing-masing. Saya setuju, sampahmu adalah tanggung jawabmu,” tegasnya.
Untuk itu, ia mendorong agar masing-masing daerah fokus menyelesaikan persoalan sampah di wilayahnya sendiri, tanpa membebani daerah lain. “Badung selesaikan di Badung, Denpasar selesaikan di Denpasar,” pungkasnya. (jay/jon)








