
DENPASAR – Tangisan pecah di antara deretan kursi Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Minggu (1/2/2026). Bukan karena kehilangan nyata, melainkan karena sebuah kisah cinta tragis yang terasa begitu dekat dengan hati.
Geguritan Japatuan dihadirkan sebagai pembuka Bulan Bahasa Bali ke VIII, dan sejak adegan awal, emosi penonton seakan ditarik masuk ke pusaran duka yang tak bertepi.
Di atas panggung, dada Japatuan terguncang oleh isak. Istri yang begitu dicintainya, Ratnaning Rat, harus meninggal ketika usia pernikahan mereka masih seumur jagung di tengah bulan madu yang mestinya dipenuhi asmara. Cinta yang terlampau dalam justru menjelma luka. Japatuan kehilangan kewarasan.
Ia menolak menguburkan jenazah istrinya, memilih merawatnya berbulan-bulan lamanya, seolah Ratnaning Rat masih bernapas dan tersenyum di sisinya.
Bau kematian tak pernah singgah di inderanya. Yang ada hanya kenangan, kemesraan, dan cinta yang tak rela ditinggalkan. Kakaknya, I Gagak Turas, menyaksikan kejatuhan adiknya dengan pilu. Amarah dan nasihat tak lagi bermakna. Bahkan sastra dan pengetahuan yang selama ini dipelajari Japatuan, runtuh di hadapan kehilangan.
Namun desa tak bisa menutup mata. Bau busuk menyelimuti lingkungan, warga resah, takut akan penyakit sekala maupun niskala. Desakan demi desakan akhirnya memaksa Japatuan merelakan jasad Ratna Ningrat untuk dikuburkan.
Adegan inilah yang menyayat emosi penonton. Dialog-dialog duka mengalir lirih, namun menghunjam. Banyak yang terdiam, sebagian menitikkan air mata, seolah mereka sendiri adalah Japatuan yang harus mengubur cinta sejatinya.
Ratnaning Rat akhirnya dimakamkan. Namun Japatuan tak pergi. Ia tetap setia di pusara, hingga di tengah sunyi dan angkernya kuburan, ia mendapat anugerah perjumpaan dengan Hyang Wisnu. Bersama kakaknya, Japatuan diarahkan menuju Indraloka.
Dalam perjalanan spiritual itu, Sastralah yang menuntun mereka, mulai melewati dihadang berbagai makhluk yang iterpretasi dari saudara-saudara yang pernah bersama dalam kandungan ibu. Ingatan dan kesadaran akan hubungan itulah yang menjadi penuntun menuju alam keabadian.
Kisah inilah yang diinterpretasikan dengan penuh penghayatan oleh Sanggar Seni KOKAR SMKN 3 Sukawati, Gianyar. Garapan anak-anak muda ini menghadirkan energi berbeda. Segar, jujur, dan menyentuh.
Penonton bukan sekadar menyaksikan pertunjukan, tetapi ikut merasakan pergulatan batin yang ditawarkan sastra Bali klasik.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, menilai pertunjukan tersebut sarat tuntunan moral. Menurutnya, Bulan Bahasa Bali tidak hanya soal aksara dan menulis lontar, tetapi juga soal menggali makna terdalam dari bahasa dan sastra.
“Ini pesan moral mengapa Bulan Bahasa Bali diisi tontonan. Supaya aspek aksara, bahasa, dan sastra bisa berjalan beriringan. Bukan hanya sebatas nyurat lontar, tetapi ada makna-makna tersembunyi yang perlu kita gali bersama,” ujarnya.
Di Ksirarnawa itu, sastra Bali tak hanya dibaca atau didengar. Ia hidup. Ia menangis. Dan ia mengetuk hati siapa pun yang menyaksikannya. (jay/jon)








