
BADUNG – Pemberdayaan seniman lokal sangat terasa dalam pelaksanaan The Nusa Dua Festival (TNDF) 2025. Mulai dari parade budaya hingga penampilan di atas panggung utama, para seniman lokal diberikan ruang dan kesempatan untuk turut ambil bagian dalam event bergengsi tersebut.
Ketua Listibiya Kecamatan Kuta Selatan, I Wayan Deddy Sumantra menuturkan, Pawai Parade Budaya di hari pertama TNDF 2025 dikonsep sebagai ajang pemersatu tiga desa adat penyangga bersama para tenant di kawasan The Nusa Dua. “Pawai Parade Budaya ini melibatkan lebih dari 500 seniman lokal yang berada di 12 banjar desa adat penyangga,” sebutnya.
Desa Adat Bualu dengan delapan banjar turut berpartisipasi, yakni Banjar Terora berkolaborasi dengan Ayodya Resort Bali, Banjar Celuk dengan The Laguna A Luxury Collection Resort & Spa Bali, Banjar Peken dengan Club Med Bali, Banjar Penyarikan dengan Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, Banjar Bale Kembar dengan Novotel Hotels & Residences Bali Nusa Dua, Banjar Pande dengan Nusa Dua Beach Hotel & Spa – Handwritten Collection, Banjar Bualu dengan Renaissance Nusa Dua, serta Banjar Mumbul dengan Grand Hyatt Bali.
Sementara itu, Desa Adat Peminge (2 banjar) menampilkan kolaborasi Banjar Peminge dengan Merusaka Nusa Dua dan Banjar Sawangan dengan BNDCC (Bali Nusa Dua Convention Center). Adapun Desa Adat Kampial (2 banjar) berpartisipasi melalui Banjar Ancak bersama The St. Regis Bali Resort dan Banjar Menesa bersama The Westin Resort Nusa Dua Bali. Selain itu, Sabha Yowana Desa Adat Peminge juga turut serta dengan menggandeng Courtyard by Marriott Bali Nusa Dua Resort & Marriott Vacation Club Indonesia.
“Bagaikan merajut untaian permadani khatulistiwa, parade budaya ini menjadi lebih menarik dan inovatif karena dikemas bergandengan dengan hotel atau tenant. Garapan ini mengambil epos besar cerita Mahabharata yang terdiri dari 18 parwa dan dikonsep oleh Penasehat Listibiya I Ketut Sarya AR. Setiap kontingen parade mendapatkan bagian cerita berbeda-beda sesuai parwa yang digarap dengan berbagai instrumen gamelan sebagai kearifan lokal masing-masing banjar,” bebernya.
Menurut Deddy, konsep tersebut benar-benar merefleksikan tema “Beauty Harmony” yang diusung TNDF 2025. Melalui kecantikan dan kelembutan, diharapkan lahir keharmonisan yang abadi.
“Serangkaian dengan kegiatan parade budaya, kami di Listibiya juga dipercaya memfasilitasi pementasan kolosal yang dibawakan oleh Sekaa Gong Desa Adat Bualu di panggung utama, pagelaran Tari Pendet massal anak-anak SD dari 9 sekolah se-Kelurahan Benoa, serta Tari Penyambutan Sekar Jepun. Kami juga memfasilitasi lomba Penjor antar Sekaa Teruna tiga desa adat penyangga dan lomba membuat topeng atau tapel dari clay yang diikuti secara kategori umum se-Bali,” sambungnya.
Karenanya, Deddy menilai TNDF 2025 merupakan tonggak awal dan pembabakan baru dalam upaya peningkatan mutu dan kualitas berkesenian menuju pariwisata berbudaya yang berbasis kearifan lokal. “Kami berharap ke depannya semoga event ini bisa tetap berkelanjutan dan lebih merangkul serta memberdayakan potensi lokal yang ada, terutama di kawasan Nusa Dua dan Kuta Selatan,” pungkasnya. (adi,dha)








