
GIANYAR – Proses ngodakin sesuhunan barong di Pura Dalem Gede Sayan, Ubud, menjadi momen sakral penuh makna bagi krama setempat. Upacara ini bukan sekadar perbaikan fisik atau restorasi, tetapi merupakan wujud pemuliaan niskala terhadap simbol pelindung desa adat.
Dalam prosesi tersebut, ornamen bulu Barong menggunakan bulu burung kokokan yang secara simbolik dipercaya melambangkan kesucian, keagungan, dan kemuliaan spiritual.
Selama proses ngodakin krama Desa Adat Sayan, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, aktif ngayah. Ketua Panitia Ngodakan Sasuhunan, I Dewa Gede Agung Wirayuda, mengatakan prosesi ngodak sasuhunan barong, rangda, maupun pratima merupakan bentuk bakti dan pemuliaan terhadap manifestasi pelindung desa. Agung Wirayuda menegaskan, sasuhunan barong di pura setempat menggunakan bahan dari bulu Burung Kokokan, burung yang dianggap suci dan hanya hidup di wilayah tertentu seperti Petulu, Ubud.

“Sasuhunan Barong ini bukan sembarangan. Dihiasi bulu asli Burung Kokokan yang melambangkan kesucian, ketenangan, dan keanggunan. Secara niskala, bulu ini dipercaya memiliki kekuatan magis menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia niskala,” ujar Dewa Gede Agung Wirayuda yang akrab disapa Degung, Senin (27/10/2025).
Sebelumnya rambut barong sempat diganti menggunakan bulu kuda. Namun dalam prosesi kali ini, bahan aslinya dikembalikan dengan bulu Burung Kokokan sebagai simbol penyucian yang lebih dalam.
“Ngodak bukan hanya memperbaiki atau membersihkan debu secara sekala, tapi juga membersihkan secara niskala,” imbuhnya.
Total bulu yang digunakan mencapai 43 ribu helai. Setiap banjar di Desa Adat Sayan termasuk sekhe teruna dan anak-anak turut ngayah dalam proses ngodakin mulai dari menjarit hingga memasang benang pengikat bulu. Melibatkan 11 juru jahit dari Banjar Sindu yang dipercaya menyatukan seluruh bulu tersebut dengan penuh ketelitian dan rasa bhakti.
“Ini bukan hanya pelestarian budaya, tapi juga pelestarian spiritual,” ujarnya.
Pelaksanaan Ngodak Sasuhunan ini mendapat dukungan dari Desa Adat, Desa Dinas, hingga Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya tak benda. (dar,yan)








