
BADUNG – Simposium global ‘Beyond Aesthetics, Meet the Masters in Bali 2025’ oleh CGBio telah sukses terselenggara selama dua hari di Pulau Dewata. Yakni diawali dengan seminar K-DOCTOR pada 17 Oktober di NuLook Clinic, dan kemudian dilanjutkan acara simposium ilmiah di Grand Mercure Seminyak.
Meet the Masters merupakan salah satu simposium akademik global terbesar dari CGBio, yang mempertemukan para ahli terkemuka di bidang tulang belakang, ortopedi, perawatan luka, dan estetika untuk berbagi inovasi perawatan serta wawasan klinis terkini. Program ini dirancang dengan fokus edukatif yang kuat, memberikan kesempatan bagi dokter untuk menyaksikan prosedur langsung, memperoleh pengalaman praktik, dan mempelajari teknik standar.
Head of Global Business Division CGBio, Danny Lee menuturkan, bahwa ini merupakan kali ketiga Meet the Masters dilaksanakan di Pulau Dewata. Dan dipastikan, selalu ada peningkatan di tiap kali pelaksanaannya. “Skala acara semakin berkembang. Dan di tahun ini, ada lebih dari 20 negara dan ratusan sarjana bedah plastik kecantikan yang ikut serta dalam acara ini,” sebutnya.
Disampaikannya pula, dipilihnya Bali menjadi lokasi pelaksanaan, bukan hanya karena reputasinya sebagai destinasi wisata kelas dunia. Melainkan juga karena merupakan lokasi NuLook Clinic yang dioperasikan oleh Daewoong Group. Dengan menggabungkan sesi akademik simposium dan seminar praktikal NuLook, acara ini menghadirkan lingkungan pelatihan klinis nyata. Kolaborasi unik ini menjadikan Bali sebagai pusat penting bagi industri medis dan estetika di Asia Tenggara.
Simposium ini terbagi menjadi tiga sesi utama. Sesi pertama menampikan presentasi makalah ilmiah yang membahas inovasi estetika terbaru dari CGBio. Sesi kedua dan ketiga menghadirkan pakar dari Korea, Eropa, dan Amerika Latin (wilayah yang menjadi pelopor tren estetika global), untuk berbagi wawasan mengenai kombinasi perawatan wajah dan tubuh. Melalui rangkaian ini, para peserta, termasuk banyak dokter dari Indonesia, memperoleh pemahaman menyeluruh tentang prosedur multimodal dan pembaruan klinis global terkini.
Program pendidikan dan pelatihan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan ilmiah dan klinis para dokter Indonesia. Terutama yakni dalam memahami dasar ilmiah K-Beauty, tren perawatan kombinasi global, serta teknik praktikal yang terstandar. Dalam jangka panjang, kegiatan ini diperkirakan akan meningkatkan standar kedokteran estetika di Indonesia, dan memperkuat kolaborasi antara pakar lokal dan internasional.
Bisnis estetika CGBio, kata dia, mencatat pertumbuhan tahunan lebih dari 50%, dengan ekspor ke sekitar 30 negara di seluruh dunia. Perusahaan saat ini sedang dalam proses pendaftaran produk di lebih dari 20 pasar baru, dan menargetkan ekspansi ke lebih dari 50 negara pada tahun mendatang.
Selain portfolio yang mencakup filler, toksin, dan benang pengencang, CGBio juga tengah mengembangkan produk baru yang sejalan dengan tren global menuju perawatan kombinasi estetika. Di antaranya seperti biostimulator, solusi anti-penuaan, dan inovasi berbasis sel punca.
“Pertumbuhan didukung oleh tiga faktor utama. Pertama, komitmen terhadap produk berkualitas tinggi yang aman dan unggul secara teknologi, sehingga diakui di berbagai kawasan dunia. Kedua, fondasi akademik yang kuat melalui penelitian klinis mendalam yang membuktikan efektivitas konsep perawatan kombinasi estetika. Ketiga, pelaksanaan program pendidikan berkelanjutan melalui platform seperti CG Institute, yang menyelenggarakan program Meet the Masters dan Cadaver Workshop untuk memenuhi kebutuhan akademik dan praktikal para dokter,” bebernya.
Indonesia, kata dia, memiliki posisi strategis dalam jaringan global CGBio. Melalui NuLook Clinic, CGBio secara rutin mengadakan K-Seminar bagi dokter lokal, menyediakan layanan konsultasi untuk pasien Indonesia, dan menjadi pusat pelatihan regional bagi tenaga medis internasional. Inisiatif-inisiatif ini menjadikan Indonesia jembatan penting yang menghubungkan keahlian CGBio dengan pasar Asia Tenggara yang lebih luas. (adi)








