
HIV AIDS adalah kondisi yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), keadaan di mana sistem kekebalan tubuh sangat lemah dan rentan terhadap infeksi dan penyakit oportunistik.
Perkembangan masalah HIV AIDS sangat mengkhawatirkan secara kuantitatif dan kualitatif, karena kasus HIV AIDS cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Salah satu populasi kunci yang rentan terhadap penularan kasus HIV AIDS adalah Pekerja Seks Perempuan (PSP).
Laporan UNAIDS tahun 2023 menunjukkan, PSP termasuk kelompok dengan risiko tertinggi terhadap HIV di seluruh dunia, dengan prevalensi yang bervariasi antar negara. Di beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah, prevalensi HIV di kalangan PSP bisa mencapai 20-40%.
Sementara berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, prevalensi HIV di kalangan PSP di Indonesia diperkirakan mencapai 10-15%. Di beberapa wilayah seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali, angka ini bahkan bisa lebih tinggi. Faktor risiko utama, di antaranya adalah kurangnya penggunaan kondom secara konsisten, jumlah pasangan yang banyak, dan kurangnya akses ke layanan kesehatan yang memadai.
Infeksi HIV menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang besar bagi pengidapnya. Selain itu, penderita HIV harus meminum obat seumur hidup untuk mengontrol penyakitnya. Oleh karena itu, pencegahan HIV sangatlah penting untuk menurunkan angka penyebaran.
Pada tahun 2015, World Health Organization (WHO) merekomendasikan Pre-Exposure prophylaxis (PrEP) sebagai pilihan pencegahan tambahan untuk orang yang berisiko tinggi terinfeksi HIV namun masih berstatus HIV negatif. PrEP dinyatakan efektif untuk mencegah penularan HIV dari hubungan seksual sebesar 99% dan dari jarum suntik sebesar 74%.
PrEP merupakan suatu tindakan pencegahan penularan HIV dengan menggunakan basis antiretroviral (ARV). Obat PrEP juga terbukti aman dikonsumsi manusia berdasarkan uji klinis. Pasal 18 Permenkes Nomor 23 tahun 2022 tentang Penanggulangan HIV, AIDS, dan IMS menyatakan, pemberian ARV profilaksis dilakukan kepada orang yang memiliki risiko HIV, baik orang yang sudah terpajan HIV maupun yang belum terpajan HIV.
Kunci utama keberhasilan program ini terletak pada strategi pendekatan yang humanis dan non-diskriminatif. Memasuki area lokalisasi, tim menyadari pentingnya membangun kepercayaan dan rapport dengan PSP serta kader di lokalisasi. Pendekatan awal tidak langsung berorientasi pada edukasi PrEP, melainkan diawali dengan sosialisasi umum tentang kesehatan, mendengarkan cerita dan kekhawatiran mereka, serta menjalin komunikasi yang santai. Materi tentang HIV AIDS dan PrEP disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan menggunakan media visual dan studi kasus nyata.
Secara umum, para perempuan penerima manfaat menunjukkan minat yang cukup tinggi terhadap informasi PrEP. Salah satu indikator keberhasilan yang signifikan adalah kesediaan beberapa PSP untuk didampingi dalam mengakses layanan PrEP di fasilitas kesehatan rujukan. Namun, keberlanjutan program sangat bergantung pada komitmen lintas sektor pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas PSP itu sendiri. Rekomendasi yang dapat diberikan oleh tim pengabdi adalah mengintegrasikan program PrEP ke dalam layanan kesehatan reproduksi yang lebih luas di lokalisasi lainnya. (*)








