
BADUNG – Desa Kutuh di Kecamatan Kuta Selatan kini terbilang tengah menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah. Dengan mengandalkan mesin incinerator karya anak bangsa bernama Motah, desa ini mampu menuntaskan pengolahan sampahnya secara mandiri.
Perbekel Desa Kutuh, Wayan Mudana, menjelaskan bahwa penggunaan Motah berawal dari kunjungan orientasi lapangan ke Bandung, Jawa Barat. Melihat efektivitasnya, mesin tersebut kemudian dioperasikan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tebo Kauh, Desa Kutuh.
“Dari segi efek dari pembakarannya itu, boleh dikatakan hampir tidak ada. Memang ada asap, tapi asapnya itu bukan asap yang mengepul dan kotor. Bahkan jika si operator mampu mengoperasikannya dengan baik, itu bisa tidak ada asapnya,” terang Mudana sembari menyebutkan bahwa mesin dimaksud juga telah menjalani uji emisi dan dinyatakan aman.
Menurutnya, Motah mampu memproses sampah dalam jumlah besar—hingga berton-ton setiap harinya. Namun, proses ini tetap memerlukan pemilahan sampah terlebih dahulu. “Jadi sementara ini yang masih menjadi kendala kami adalah belum terpilahnya sampah dari sumber. Sampah yang tiba di TPST masih bercampur, sehingga harus kami pilah dahulu. Ini tentu memakan waktu,” katanya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pihak desa terus menggencarkan sosialisasi tentang pentingnya memilah sampah dari rumah. Sosialisasi ini, lanjut Mudana, mendapat dukungan aktif dari sekaa teruna di Kutuh.
Pengoperasian mesin Motah di Kutuh telah berlangsung selama enam bulan terakhir. Namun karena volume sampah yang cukup tinggi, desa memutuskan untuk menambah Motah satu unit lagi. “Nanti satu lagi awal Agustus ini sudah beroperasi,” ungkapnya mengenai mesin yang katanya senilai lebih dari Rp 1,5 miliar itu.
Mudana juga menambahkan, Motah merupakan incinerator yang beroperasi tanpa bahan bakar tambahan. Hasil pembakarannya berupa abu, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat paving block. “Dari satu ton sampah, residunya itu 10 persen,” jelasnya.
Dengan komitmennya dalam mengelola sampah secara mandiri, Kutuh kerap menjadi tujuan kunjungan studi banding dari berbagai wilayah, baik dari Bali maupun luar Bali. “Prinsipnya, penanganan sampah jangan sampai mengotori desa lain,” tegas Mudana. (adi)








