
DENPASAR – Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (23/6/2025) sore, disulap menjadi lautan manusia. Tepuk tangan riuh menggema, bukan untuk selebriti, melainkan untuk para bintang kecil luar biasa: anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Bali yang menari sepenuh hati dalam ajang “Rekasedana SLB” Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47.
Tak ubahnya pertandingan final sepak bola, antusiasme penonton begitu tinggi. Para penari tak datang sendiri. Setiap anak mengajak satu hingga tiga pendamping: guru, orang tua, dan rekan-rekan sekolah yang datang memberi dukungan penuh. Meski pertunjukan dimulai pukul 17.00 Wita, penonton sudah mengisi kursi sejak sore, menunjukkan kecintaan yang tulus terhadap seni dan para pelaku istimewanya.
Panggung dibuka oleh SLB Negeri 1 Gianyar lewat Tari Puspa Wresti, garapan maestro Prof. Dr. I Wayan Dibia dan I Nyoman Winda. Tarian penyambutan ini dibawakan delapan penari yang tampil dengan panduan isyarat dari guru di depan panggung—menjadi bukti bahwa keterbatasan tak membatasi ekspresi.
SLB Negeri 1 Bangli membawakan Tari Topeng Bujuh, sementara SLB Negeri 1 Klungkung mempersembahkan Tari Sundara, tarian gadis Bali zaman dulu yang sederhana dan polos. Meski guru mereka berhalangan hadir, para penari tampil penuh percaya diri. “Kami sudah terbiasa latihan tanpa pendamping, jadi bisa tetap percaya diri,” ujar Kadek Ayu Martini, salah satu penari.
SLB Negeri 1 Denpasar menghadirkan Tari Wirayuda, tari heroik para pejuang, dengan enam penari pria dan properti tombak. Disusul SLB Negeri 1 Karangasem dengan Tari Sekar Jagat yang dipandu tiga guru di tiga titik panggung—kerja tim yang luar biasa demi penampilan sempurna.
SLB Negeri 1 Jembrana menyuguhkan Tari Kreasi Wariga, lengkap dengan dupa dan kain poleng sebagai simbol penghormatan kepada alam. SLB Negeri 1 Badung memukau lewat Tari Merak Angelo, sedangkan SLB Negeri 1 Tabanan menghidupkan cerianya hujan dalam Tari Tegung Lalita.
Yang membedakan dan mencuri perhatian adalah SLB Sushrusa dengan dramatari Sadhara Hita, lengkap dengan dalang dan 10 penari yang tetap dipandu isyarat oleh guru di depan panggung. Penampilan penuh narasi ini menyentuh emosi penonton.
Tak kalah megah, SLB Negeri 3 Denpasar membawakan Kecak Ramayana dengan 25 penari. Hanoman tampil lincah dan melakukan akrobatik di atas panggung, mengundang sorakan penonton. “Kami sudah latihan jauh-jauh hari. Semua anak-anak bersemangat untuk tampil di PKB,” ungkap sang pelatih sekaligus dalang, Anak Agung Gede Mahardika, S.Sn., M.Sn.
Sebagai penutup, SLB Negeri 2 Denpasar menampilkan Dramatari Selat Bali dengan 22 penari. Gerak tari yang terukur, agem yang anggun, dan ekspresi yang mendalam membuat penonton terdiam takjub. “Mereka luar biasa. Teknik tari dan kepekaan mereka menyentuh hati,” kata Komang Sari, penonton yang tak kuasa menyembunyikan haru.
Rekasedana SLB di PKB bukan sekadar pertunjukan, tapi selebrasi keistimewaan. Di atas panggung, anak-anak ini bukan hanya menari—mereka menyampaikan pesan bahwa keterbatasan fisik tak akan pernah membatasi jiwa yang ingin berkarya. (surr)








