
BADUNG – Siapa sangka, dari usaha kecil-kecilan yang dimulai di sebuah kamar kost, kini Bali Paper Ink telah berkembang hingga membuka cabang keempat. Berlokasi di kawasan pariwisata Canggu, merek tato temporer asal Bali ini mulai mengincar pasar internasional.
Di balik kesuksesan ini adalah pasangan suami istri Havidz Najjar dan Marina Idris, yang sejak 2019 merintis usaha tato temporer berkualitas. Mereka bahkan bisa dibilang pelopor menjadikan tato temporer sebagai oleh-oleh khas Bali. Semuanya berawal dari kamar kost di kawasan Denpasar.
“Waktu itu modal kami cuma sekitar Rp2 jutaan. Kami mulai jualan keliling, COD-an, bahkan beberapa kali sempat ditipu. Saat barang kami antarkan, tiba-tiba nomor kami di-block,” kenang Havidz soal lika-liku awal merintis Bali Paper Ink.
Tak menyerah, bahkan di tengah pandemi Covid-19, mereka terus mencari jalan. Salah satunya dengan memanfaatkan media sosial TikTok yang tengah naik daun. Strategi ini ternyata sangat efektif, dan Bali Paper Ink mulai dikenal luas bahkan menembus pasar di luar Bali.
“Setelah di Denpasar kita buka di kos-kosan, kita buka cabang di Legian. Dan ternyata market juga sangat antusias,” ujarnya saat grand opening Bali Paper Ink Canggu, Minggu (22/6/2025).
Perjalanan ekspansi pun terus berlanjut. Setelah membuka cabang di Legian pada Januari 2024, mereka kembali menambah satu outlet di kawasan Tuban pada April 2024. Dan kini, menjelang akhir Juni 2025, Bali Paper Ink hadir di Canggu dengan membawa misi baru yakni menyasar wisatawan mancanegara.
“Awalnya pasar kami adalah wisatawan lokal. Tapi tahun ini kami memberanikan diri untuk mencoba menjangkau pasar yang lebih luas lagi dengan target wisatawan mancanegara,” jelas Havidz, dalam acara grand opening yang juga dihadiri Good Ponsel Angels.
Havidz optimis, cabang terbaru di Canggu akan mendapat sambutan hangat dari para wisatawan asing. Optimisme ini didasari oleh tingginya antusiasme saat soft opening sebelumnya.
“Sekarang sudah banyak anak muda lebih memilih tato temporer ketimbang yang permanen. Bisa dibilang, tato temporer sudah menjadi semacam lifestyle, sebagai semacam outfit harian yang bisa diganti-ganti sesuai dengan mood,” tambahnya.
Lewat Bali Paper Ink, Havidz dan Marina atau yang juga dikenal dengan nama Giyo, juga ingin memperkenalkan kekayaan seni budaya Bali kepada dunia. Tidak sedikit ragam desain tato mereka sarat dengan nuansa khas Bali, termasuk hasil kolaborasi dengan seniman-seniman lokal seperti Rakajana. (adi)








