
(dari kiri ke kanan) Nicodemus Johanis Boik, Dicky Prasetyo, Made Gargita Yasa, dan Wieok Susanto.
BADUNG – Dampak kebijakan efisiensi anggaran mulai dirasakan oleh usaha-usaha yang selama ini kerap dijadikan sebagai venue penyelenggaraan kegiatan MICE. Salah satunya yakni sebuah usaha kuliner, Bali Timbungan, yang beralamat di Jalan Sunset Road Nomor 88, Kuta.
Chief Operating Officer PT Natura Pesona Mandiri, Wieok Susanto mengungkapkan, Bali Timbungan Sunset Road merupakan bagian dari Secret Garden Village.
Restoran ini dibuka pada tahun 2018, dengan menyediakan berbagai macam makanan khas Bali. Dan untuk diketahui, Bali Timbungan Sunset Road memiliki dua lantai, yang mana pada lantai dasar terdiri dari area indoor ber-AC dan area terbuka.
Sementara pada lantai dua, memiliki area khusus pertemuan, sehingga sangat ideal untuk dipergunakan sebagai lokasi penyelenggaraan berbagai acara bisnis dan kantor. “Ini adalah restoran kedua kami. Yang pertama adalah Secret Garden Village. Selain itu, kami juga ada Black Eye Coffee,” tambahnya bersama Operational Senior Manager PT Natura Pesona Mandiri, Dicky Prasetyo.
Bulan Maret ini, diakui dia, industri pariwisata memang dalam kondisi lesu. Selain karena memang low season, juga dipengaruhi pula oleh adanya kebijakan efisiensi anggaran. “Customer kami selama ini memang banyak dari instansi-instansi terkait sama pemerintah, seperti kementerian-kementerian dan BUMN,” ucapnya.
Namun hal itu tidak membuat pihaknya berkecil hati. Upaya-upaya tetap dilakukan, untuk mengangkat angka kunjungan. “Secara umum, sekarang ini penurunan hampir 50 persen,” ucapnya sembari berharap agar di bulan April nanti, kunjungan bisa menggeliat kembali.
“Kami juga berharap, agar pemerintah bisa sedikit melonggarkan pengetatan anggaran ini,” imbuhnya.
Sementara itu, Made Gargita Yasa selaku Food and Beverage Manager menuturkan bahwa Bali Timbungan adalah sebuah restoran yang mengangkat ‘Base Gede’ sebagai ciri khas bumbu dasar. Salah satunya, itu diterapkan pada ‘Bebek Metimbung’ yang merupakan menu andalan dari Bali Timbungan. “Jadi sebagian besar menu yang ada di Bali Timbungan, bumbunya adalah Base Gede,” ungkapnya bersama Head of Channel, Nicodemus Johanis Boik.
Namun demikian, seiring berjalannya waktu, hidangan yang dihadirkan semakin beragam. Termasuk seafood, sebagaimana yang ada di Jimbaran, dengan menggunakan bumbu khas Bali. “Bali Timbungan memiliki luasan kurang lebih 400 m2. Dengan kapasitas kursi sekitar 240-an. Di sini kami mengangkat kuliner tradisional dari seluruh penjuru Bali, seperti Sudang Lepet, Ayam Betutu, dan Ikan Bakar ala Jimbaran,” imbuhnya.
Guna mengangkat angka kunjungan, dibeberkan dia, Bali Timbungan menawarkan berbagai promo. Di antaranya seperti pemberian takjil gratis bagi yang berbuka puasa di Bali Timbungan. “Sementara ini, market kami di sini adalah domestik. Tapi ada pula dari asing, seperti dari China dan Malaysia,” tambahnya.
Sekilas untuk diketahui, Bali Timbungan telah berkali-kali memperoleh penghargaan untuk menu otentiknya. Termasuk dari dunia internasional, sebagai salah satu destinasi kuliner di Pulau Dewata. Bahkan selama 3 tahun berturut-turut, Bali Timbungan dinobatkan sebagai ‘Best of The Best Balinese Food’ oleh Yayasan Tri Hita Karana melalui penghargaan bergengsi ‘Melapa-Melapi Awards’. (adi)








