
GIANYAR – Virus Afrikan Swine Fever (ASF) sudah menyebar di 32 provinsi di Indonesia. Peternak di Kabupaten Gianyar diminta waspada dan selalu ketat terhadap seluruh aktivitas berkaitan dengan ternak Babi.
Kabid Keswan Distannak Gianyar, Made Santiarka Kamis (19/12/2024) menjelaskan, kewaspadaan ketat terhadap virus ASF ini sudah sejak tahun 2020. Hanya saja perlu dilakukan sosialisasi yang masif.
“Seluruh lalu lintas aktivitas ternak, pakan, manusia, obat dan ternak baru diawasi ketat. Jadi orang dan barang diawasi ketat,” jelas Made Santiarka.
Peternak dalam skala besar sudah memahami SOP berkait ternak ini. Namun, peternak yang tanggung perlu diberikan edukasi lebih tarkait ini.
“Jadi, kalau masuk kandang, orangnya harus disterilkan, pakaiannya steril, dan orang asing (luar) dilarang masuk,” jelasnya.
Segala sesuatu berkaitan babi ini mendapat pengawasan, khususnya ternak babi yang didatangkan dari luar kandang.
Bagi peternak, kandang wajib bersih, orang yang masuk kandang diawasi dan disterilkan.
“Kalau ada babi baru, maka wajib diisolasi selama dua minggu. Kalau ada babi mati wajib dilaporkan dan bangkainya dikubur,” tegasnya.
Diungkapkannya, ASF masuk di Bali diindikasikan dari Tabanan. Salah satu peternak membuang bangkai babi ke sungai.
Hal ini menyebabkan virus ASF menyebar dengan cepat, dimana penyebarannya melalui udara, baik yang nempel di manusia, di pakan atau orang asing yang masuk ke kandang.
Sekalipun belum ditemukan kasus positif, tingkat kewaspadaan terus diupayakan sehingga bila terjangkit, segera dilakukan evakuasi dan penanganan. (jay)








