
GIANYAR – Keberadaan dokter Wayan Tirta Sumadi, atau dokter Wayan yang menjadi perbincangan di media sosial karena kondisi rumah dan tempat prakteknya di Karangayar, Kerawang, Jawa Barat cukup memprihatinkan menjadi pertanyaan masyarakat.
Wartawan WARTA BALIi pun menelusuri keberadaan dokter yang dikenal ramah oleh warga di lingkungan tempatnya tinggal tersebut.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan WARTA BALI berhasil menemukan rumahnya di Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.
Memasuki rumahnya yang cukup asri dan rindang, Warta Bali diterima hangat oleh kakak ke tiga dr. Wayan, Ni Nyoman Latri, bersama keponakan dan menantu yang mengajak dokter Wayan tersebut pulang ke Bali.
Ni Nyoman Latri pun cukup terbuka terkiat keberadaan dokter yang dikenal cerdas tersebut. Diketahui secara fisik kondisi dokter wayan sehat. Hanya saja diakui dokter wayan belum mau berkomunikasi banyak dan masih butuh istirahat. Sehingga WARTA BALIl pun tidak bisa bertatap muka langsung dengan dokter Wayan.
Kakak korban tersebut, menjelaskan, sebelum viral dan menjadi perbincangan di jagad maya, pihak keluarga telah berusaha membujuk dokter Wayan untuk pulang sebagaimana harapan keluarga agar membuka praktek di Bali.
“Dokter wayan adalah yang paling kecil. Ia kuliah di UGM, Kami bersaudara lima orang. Saya anak ke tiga tapi sudah menikah keluar,” ujarnya.
“Dari kedua orang tua yang sudah almarhum mengharapkan agar adik saya ini setelah menyelesaikan studi, agar praktek di Bali, hanya dia lebih memilih merantau,” ujar Latri menuturkan kepada Warta Bali, Jumat (5/4/2023).
Dokter Wayan memilih merantau setelah ia menikah dengan pujaan hatinya yang merupakan seorang bidan ditempatnya intensif dulu daerah terpencil Senyamuk, Kalimantan.
Ia pun menegaskan, permasalahan yang mucul di keluarga dr wayan ketika ia dan istrinya lagi rame-ramenya ketika membuka praktek. Dimana istrinya yang telah mengikuti kepercayaan dokter wayan, mendapat voucher naik haji dari sebuah perusahaan farmasi.
“Karena sudah mengikuti keyakinan suami, rencana dokter wayan voucher itu dijual, tapu entah bagaimana, istrinya akhirnya ikut naik haji, disana mulai pertengkaran sampai akhirnya dokter Wayan dan istirnya sepakat berpisah,” ungkapnya.
Begitu juga dengan istri keduanya yang memang umurnya terpaut jauh. Dari menyekolahkan sampai menguliahkan sebagai perawat. Namun juga kandas di tengah jalan.
“Sama istri kedua ini kami keluarga juga sempat kasian sama wanita keturunan tioanghoa itu. Karena umurnya dengan adik saya terpaut cukup jauh, sempat kami tanyakan kenapa mau sama adik saya. Namanya nasib tidak bisa kita tau, malah dia yang pergi dan katanya sudah menikah lagi sekarang,” jelasnya.
Latri dan keluarga pun mengaku tidak menyangka adiknya menjadi demikian. Sebab pihak keluarga tidak pernah putus kontak dengan dokter Wayan. “Kalau ada upacara di rumah atau odalan di pura, sering kita kabari, ia pun menjawab dengan baik dan seperti tidak ada masalah,” jelasnya.
Latri yang paling sering mengunjungi dokter Wayan ke Kerawang pun berterimakasih kepada warga setempat atau pihak lain yang telah memberikan perhatian kepada adiknya. Ia berharap kehidupan privasi dokter Wayan jangan terus diekploitasi untuk dijadikan conten. “Kami keluarga juga jangan di foto,” ujarnya.
Saat ini keluarga sedang fokus untuk memberikan perhatian dokter Wayan. “Menurut kepercayaan kita, nanti wotonan adik saya tempat di hari Saraswati, kemungkinan akan dilakukan pembersihan secara niskala, yakni bayuh oton atau lainya,” ujarnya.
Diduga pula, menurut orang pintar yang telah memberi tahu, dikatakan rumah dokter Wayan yang di Kerawang tersebut telah banyak penghuninya. Yang mencoba menguasi dokter Wayan.
“Karena mendapat masalah psikis ditambah lagi dengan hal negatif, ya jadi adik saya seperti ini dan harus dibersihkan secara niskala. Kami telah setahun lebih berusaha membujuk dokter untuk pulang tapi tak kunjung berhasil,” ujarnya.
Disampaikan juga keinginan dokter Wayan yang belum tercapai adalah menjadikan rumah tersebut klinik rawat inap. “Rencananya rumah itu dan pekarangan disampingnya dijadikan klinik untuk membantu warga sekitar yang akan berobat, tapi sampai saat ini belum bisa diwujudkan keduluan sakit,” pungkasnya. (jay)








