
DENPASAR – Ibu-ibu yang tergabung dalam Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Lingkungan Santa Maria Regina (Sanmare), Paroki Santo Yoseph Denpasar, antusias mengikuti pelatihan pembuatan eco enzyme.
Pelatihan dipandu oleh Sisilia Tamara dan Ayu Saras, dari Komunitas Eco Enzyme Nusantara, pada Minggu (16/4/2023) sore, bertempat di WB School Bali, Jalan Ahmad Yani Utara Denpasar.
Sampah organik seringkali dibuang begitu saja tanpa diolah terlebih dahulu. Padahal sampah organik dapat diolah menjadi suatu produk yang sangat bermanfaat, salah satunya adalah eco enzyme.

Seperti diketahui, eco enzyme yang dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong dari Thailand adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti kulit buah dan sayuran, dengan substrat gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air.
Karena berbahan dasar limbah dapur inilah, tidak salah jika kaum ibu sangat penting untuk mendapatkan pelatihan pembuatan eco enzyme sehingga bisa memanfaatkan limbah dapur dengan lebih baik.
Sisilia Tamara mengatakan, pembuatan eco enzyme merupakan salah satu cara kita untuk merawat Bumi. Banyaknya timbunan sampah dan limbah, membuat Bumi semakin kotor dan rusak. Namun dengan kandungan yang dihasilkan eco enzyme, kita bisa memiliki banyak cara untuk membantu siklus alam seperti memudahkan pertumbuhan tanaman, mengobati tanah dan juga membersihkan air yang tercemar.
“Jadi kita bukan hanya sekedar membuat eco enzyme tapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk bagaimana mencintai bumi tempat tinggal bersama. Kalau kita membuatnya dengan penuh kesadaran pada akhirnya kita juga yang mendapatkan manfaat,” katanya.
Sementara Ayu Saras, lebih banyak mengupas berbagai manfaat eco enzyme untuk kehidupan sehari-hari. Seperti mengurangi penggunaan zat-zat kimia dalam rumah tangga, hingga manfaat eco enzyme untuk membantu penyembuhan penyakit.
Seperti pengobatan luar untuk luka, banyak sekali pengalaman empiris seperti luka lecet, luka terbakar, luka digigit serangga, diabetes hingga terapi untuk stroke.
Sebagai cairan pembersih, eco-enzyme bisa digunakan sebagai cairan pembersih ramah lingkungan. Sementara sebagai pupuk tanaman, penggunaan eco enzyme tidak bisa sembarangan dan tidak langsung digunakan pada tanaman. “Campurkan air secukupnya sebelum dijadikan pupuk organik pada tanaman,” jelasnya.
Baik Sisilia Tamara maupun Ayu Saras sepakat, sebelum membuat eco enzyme harus dimulai dengan niat dan hati yang baik, sehingga hasilnya juga akan membawa banyak manfaat. “Membuat eco enzyme adalah membuat bakteri baik, sehingga hati kita juga harus baik,” kata Sisilia Tamara.
Cara pembuatan eco enzym hanya membutuhkan tiga komponen yaitu air, gula sebagai sumber karbon, dan sampah organik sayur-buah yang masih segar untuk difermentasi selama kurang lebih tiga bulan. Dengan perbandingan tiga bahan yaitu 1:3:10.
Dengan cara pembuatan yang mudah ini, ibu-ibu rumah tangga juga sudah harus mulai membiasakan diri untuk memisahkan sampah. Sampah-sampah organik seperti sisa bahan makanan sebaiknya tidak dicampur dengan bahan tak terurai seperti plastik.
Karena dengan pemisahan ini, masing-masingnya bisa dimanfaatkan kembali. Seperti pembuatan eco enzyme dengan sampah organik. Atau didaur ulang untuk plastik dan sampah non organik lain. (dha)








