
GIANYAR – Baliho kadaluwarsa masih menjamur di Kota Gianyar. Padahal, Bupati Made Mahayastra sangat konsen terhadap penataan wajah daerah yang dipimpinnya, mulai pertamanan, estetika bangunan, hingga kebersihan.
Pantauan di lapangan, titik-titik tempat yang menjadi sentral pemasangan baliho adalah pertigaan Buruan, perempatan Blahbatuh, Perempatan Beng, Peteluan Bangli, Samplangan, dan disepanjang jalan.
Kasat Pol PP Gianyar I Made Watha tak menampik kondisi tersebut. Pihaknya rutin melakukan penertiban terhadap baliho usang. Namun, diakuinya tidak sembarang bisa diturunkan begitu saja.
“Kami rutin menurunkan baliho yang sudah using, tapi tidak semua bisa diturunkan karena ada yang baliho profit ada yang sifatnya sosial pendidikan,” ujar Watha, Minggu (9/4).
Menurutnya, sekarang yang banyak kedaluarsa adalah baliho milik partai atau politisi terkait ucapan selamat hari Raya Nyepi. Pihaknya akan lakukan sinergitas.
“Kalau itu milik partai kita akan koordinasi dahulu dengan induk partainya supaya diturunkan oleh yang besangkutan demi kebersihan dan keindahan kota,” ujar birokrat asal Ketewel ini.
Watha juga mengimbau kepada tokoh atau politisi yang memiliki baliho kedaluarsa dihimbau kesadarannya agar menurunkan sendiri balihonya. “Ngih itu kesadaran sebagai wujud sinergitas dan rasa memiliki untuk sama-sama jaga keindahan kota. Seperti kemarin saat kedatangan presiden Jokowi ke Pura Besakih kita kordinasikan itu, sehingga semua menurunkan,” jelasnya.
Watha mengatakan, jenis baliho ada dua, baliho profit dan baliho sosial pendidikan. Kalau baliho profit ranahnya perizinan.
“Ada titik-titik yang sudah ditentukan. Kalau sosial pendidikan itu tidak perlu izinnya. Kalau semua kita turunkan kita juga keterbatasan tempat untuk menaruh barang itu, jadi kalau yang bersangkutan menurunkan kan bisa digunakan untuk tahun berikutnya atau dimanfaatkan untuk hal lain,” tandas Watha. (jay








