
GIANYAR – Bahan alami membuat ogoh-ogoh tidak sebatas menggunakan bilah bambu. Ada juga memakai ambengan atau ilalang seperti dilakukan Sekaa Teruna Eka Kencana di Banjar Kelingkung, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar.
Mereka membuat anatomi ogoh-ogoh “Garudeya” menggunakan ambengan. Keberadaan rumput ilalang kering tersebut cukup melimpah di Desa Lodtunduh dan selama ini dijadikan lahan penghidupan oleh masyarakat setempat.
Konseptor Agus Eri mengatakan, Garudeya mengisahkan tentang perjuangan sang Garuda demi menyelamatkan ibunya Dewi Winata dari perbudakan Dewi Kadru dan para naga.
“Garudeya memporak-porandakan surga demi mencari Tirta Amerta. Dan kaitan dengan ogoh-ogoh berbahan alang-alang karena dalam perjalanan Sang Garudeya membawa Tirta Amerta, percikannya itu jatuh ke rumput alang alang. Itu pula sebabnya, rumput alang alang atau di Bali disebut Ambengan ini punya nilai sakral. Sebagai bagian dari sarana upakara,” jelas Agus Eri, Selasa (21/2/2023).
Proses pengerjaan Garudeya melibatkan seluruh muda-mudi setempat, mulai dari pencarian bahan hingga membentuk badan ogoh-ogoh.
“Setiap tahun kami ingin membuat ogoh-ogoh dari bahan yang gampang didapat. Apalagi, Desa Lodtunduh salah satu penghasil dan pembuat atap alang-alang,” ujarnya.
Gus Eri mengaku cukup dipermudah dalam membuat ogoh-ogoh dari bahan ilalanh ini. Sebab, sebelumnya Sekaa Teruna setempat sudah beberapa kali diajak menggarap karya serupa berbahan alami.
“Dulu pernah pakai jerami, ulatan bambu dan sekarang alang-alang. Ke depan, kami juga akan kembangkan kreasi lain,” ucapnya. (jay)








