
DENPASAR – Menghadapi tahun politik dan Pemilu legislatif di tahun 2024, partai politik yang lolos sebagai peserta Pemilu, mulai menyiapkan berbagai strategi, mengaet massa pemilih.
Berbagai pendekatan juga mulai dilakukan secara inten guna membangun kepercayaan pemilih pada partai politik.
“Sosialisasi Pemilu 2024 harus dilakukan dan menyasar pemilih dari generasi millenial dan generasi z. Sosialisasi ini harus dilakukan sesuai dengan karakter masing-masing,”ujar Ketua Bapilu DPD Partai Hanura Provinsi Bali Mardiki Supriadi, Minggu (8/1/2023).
Mardiki Supriadi yang juga salah seorang Dekan pada salah satu perguruan tinggi swasta di Bali ini menjelaskan, generasi Y, lahir 1980-1995, sering disebut generasi millennial. Sementara generasi Z, kelahiran dari tahun 1996-2009 sering disebut juga generation net atau generasi Internet. Generasi ini merupakan anak-anak mahasiswa.
Khusus untuk kegiatan sosialisasi pemilu 2024 lebih tepatnya dilakukan oleh pemerintah guna meningkatkan partisipasi pemilih dari kedua generasi ini. Sebab, melihat prosentase dari kedua generasi ini mencapai 70 persen.
Sosialisasi pemilu agar bisa maksimal semestinya dilakukan pemerintah dan sosialisasi disesuaikan dengan karakter mahasiswanya.
“Pemerintah harus jeli terhadap anak-anak muda saat ini ditengah kecanggihan teknologi digital. Sosialisasinya jangan sampai tidak mencapai tujuan lantaran tidak digubris anak-anak muda, olehkarenanya disesuaikan dengan karakaternya,”katanya.
Menurutnya pada generasi milleneal atau anak-anak muda saat ini kepeduliannya dengan pemerintahan sangat minim. Misalnya, disampaikan tentang keberadaan anggota dewan dipastikan tidak nyambung.
Sebab, anak muda sekarang terlalu apriori. Pimikirannya sudah negatif terhadap wakil rakyat. Padahal para wakil rakyat yang berperan sebagai perancang dan menetapkan undang-undang.
Lantas, bagaimana dengan partai politik. Pihaknya memastikan semua partai politik termasuk partai Hanura Bali dipastikan akan menggarap kedua generasi ini. Gerakan anak muda ketika benar-benar bisa dimanfaatkan saat perhelatan politik akan menjadi super power dan bisa meningkatan perolehan suara partai.
Kegiatan sosialisasi partai melalui media sosial jelas akan lebih cepat sampai ketimbang kampanye melalui konvensional.
“Kegiatan kampanye dengan model konvensional dipastikan sudah ditinggalkan oleh anak muda. Anak mudah akan beralih pada pemanfaatan kecanggihan teknologi salah satunya yang ngetren lewat tiktok,”katanya.
Meski demikian, ada juga kelemahannya, terkadang anak muda, tidak bisa dipegang. Cepat berubah dan bisa langsung pindah ke yang lain. Pihaknya berharap, dalam menggaet pemilih millineal, jangan hanya diceramahi tetapi berikan dia kesempatan untuk berkiprah. Sehingga perlu diberi ruang untuk bicara.
“Menggaet pemilih dari anak muda, pendekatannya harus cerdik sesuaikan dengan karakter dan berikan mereka kesempatan untuk bicara, kalau sudah deket jangan sampai pindah kelain hati,”pungkasnya. (arn/jon)








