
TABANAN – Banyak cara yang dapat dilakukan masyarakat, menyiasati mahalnya harga minyak goreng di pasaran saat ini. Salah satu dengan mengolah buah kepala menjadi minyak tandusan yang dapat dilakukan secara tradisional.Seperti itulah yang dilakukan kelompok wanita tani (KWT) Buana Sari Gadungan, Selemadeg Timur, Tabanan. Kelompok usaha rumahan ini mengolah buah kelapa menjadi minyak tandusan hingga VCO.
Menurut salah satu anggota KWT Buana Sari Gadungan Nengah Suarjana, pembuatan minyak dari buah kelapa bukan karena malahnya harga minyak goreng saat ini. Mengolah buah kelapa menjadi minyak tandusan sudah dilakoni sejak lama sebelum harga minyak mahal.
“Sudah lima tahun KWT ini mengolah buah kelapa menjadi minyak tandusan dan VCO,” kata Nengah Suarjana yang juga sebagai marketing VCO beberapa waktu lalu.
Naikknya harga minyak goreng yang melambung tinggi, menurutnya tak membuat dirinya kalang kabut seperti yang diberitakan di media massa. Ini karena dirinya bersama gerakan masyarakat kewirausahaan terpadu KWT secara mandiri dan bersama-sama membuat minyak tandusan.
“Tidak urusan kami mau minyak goreng harganya mahal atau tidak, karena kami terbiasa membuat minyak tandusan selain untuk kebutuhan rumah tangga di rumah. Juga untuk dijual di pasar-pasar tradisional,” ungkapnya.
Untuk bahan baku buah kelapa, selain diserap secara langsung dari petani yang ada di sekitar desa, juga memanfaatkan buah hasil daksina atau lungsuran upacara. Begitu pula pekerja dari ibu-ibu rumah tangga desa dan muda-mudi yang di desa dengan sistem padat karya.
“Ketimbang tidak dimanfaatkan masyarakat. Itu yang kami beli diolah menjadi minyak tandusan dan VCO,” sebutnya.
Suarjana menambahkan, untuk produksi minyak tandusan tergantung dari pemesan. Biasanya 400 butir bisa pihaknya produksi. Dalam 6 butir buah kelapa bisa mampu menghasilkan sebotol tanggung air mineral minyak. Pengolahnnya cukup membutuhkan waktu selama satu hari.
“Harga untuk minyak tandusan sebotol air mineral kami jual seharag Rp 7 ribu. Dipasarkan di Pasar Kreneng dan Pasar sanglah Denpasar. Selain itu memang sudah ada langganan,” ujarnya.
Minyak tandusan memang sangat jauh beda dengan minyak kemasan dan minyak curah yang beredar di pasaran. Selain karena kualitas yang benar-benar tanpa campuran apapun, juga memang dapat digunakan memasak berkal-kali.
“Kalau minyak tandusan yang diolah dari buah kepala lebih jernih, minyak sekali dipakai untuk goreng apapun masih bening, beda dengan minyak kemasan, sekali pakai langsung warna minyak hitam,” terangnya.
Dia juga menyebut ditengah naiknya harga minyak goreng saat ini, juga membawa dampak terhadap laku kerasnya minyak tandusan di pasaran saat ini.
“Sekarang banyak masyarakat beralih pakai minyak tandusan, karena harga lebih terjangkau dibandingkan dengan minyak kemasan,” pungkasnya. (jon)








